Pura Pura Cinta

Minggu, 13 November 2011

^A Little Love Story^


^Piece Love Story By Minah Syalalabibeh^


Jangan dekat atau jangan datang kepadaku lagi..
Aku semakin tersiksa karena tak memilikimu..

.............

“Ara!
Seseorang memanggil namaku.
Dengan gerakan yang spontan aku pun memutar kepalaku ke belakang ketika mendengar suara itu. Suara yang terdengar khas ditelingaku. Suara yang mampu mengakibatkan gempa lokal dihatiku. Suara yang datangnya dari dia, sahabat sekaligus orang yang telah mencuri perhatianku. Suara yang....... Ah! Terlalu banyak kata yang ingin kutuangkan ketika sudah mendengar suaranya. Intinya saja, suara itu kini sanggup membuatku rela untuk sejenak menghentikan aktifitasku yang --sebenarnya-- tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun kecuali DIA. Menulis, aku senang melakukannya.

“Hai, Feb! Ada apa?” Aku tersenyum kecil menyambut kehadiran Febrian yang tahu-tahu sudah berdiri tegap di hadapanku. Sama halnya denganku, Febrian juga mengukir senyum. Senyuman termanis yang pernah aku lihat.
“Aku mau ngasih ini buat kamu, Febrian menyodorkan sebuah kertas undangan berbentuk hati yang kemudian diletakkannya diatas buku tulisku. Bukannya menerima, aku malah mendelik heran. Undangan apa itu???
Siapa yang ulang tahun? tanyaku kemudian.
Itu bukan undangan ulang tahun, Ra. Tapi, undangan ke acara little party aku. Cuma kamu doang lho yang aku undang! Yah, itung-itung sebagai ungkapan rasa terima kasih aku buat kamu. jelas Febrian terkekeh kecil diujung kalimat. Untuk yang kedua kalinya alis ku terangkat. Terima kasih? Untuk apa pula Febrian berterima kasih? Dan seperti dapat membaca arti dari tatapan mataku, Febrian pun kembali menyahut. Kamu lupa yah? Kemarin kan aku sempat curhat sama kamu, Ra. Tentang perasaan!
Tentang perasaan? Aku bertanya -lagi- dalam hati. Buru-buru kuputar memori ingatanku untuk menjelaskan maksud dari jawaban sahabatku itu. Memangnya dia ada curhat apa sih semalam?
Untuk waktu yang cukup lama aku termangu. Dan pada akhirnya aku pun ingat!
Kemarin..........

Kelas sudah sepi. Murid-murid juga telah pulang ke rumah mereka masing-masing, berbeda dengan aku yang masih sibuk membereskan peralatan tulisku yang nampak berserakan diatas meja. Di saat itulah Febrian datang menghampiriku dengan wajah yang bisa dikatakan.... Eunggg~ no kidding! Yah, serius.
Ra, aku pengen cerita sama kamu. Ini penting! katanya dengan nada yang antusias.
Aku menoleh sedikit ke arahnya, lalu kembali memasukkan buku-buku tulisku ke dalam tas. Sepenting apa sih Feb? Pentingan mana coba sama pertandingan Indonesia ngelawan Qatar entar malem? godaku jail. Aku memang suka menggodanya, apalagi disaat Febrian lagi ingin serius seperti sekarang. Tapi, aku rasa mood-nya memang lagi tidak bisa diajak bercanda, karena ku lihat matanya langsung melotot garang seperti hendak menelanku tanpa sempat dimasak.
“Aku serius! gertaknya cukup membuatku takut, lantas diam.
Iya, iya. Memangnya ada apa sih?
“Aku, aku, aku lagi jatuh cinta, Ra.” jawabnya sedikit tergagap, mungkin karena gugup. Febrian sempat menatapku sesaat lalu setelah itu ia buru-buru mengalihkan pandangannya. Aku tidak mengerti kenapa dia bersikap seperti itu? Apakah gadis yang beruntung itu adalah aku? Oh Tuhan, jika benar, betapa indahnya cinta yang Kau anugerahkan untukku. Cinta yang bersambut tanpa ada istilah kata bertepuk sebelah tangan.
Menurutmu aku harus gimana? Aku nggak mau dia di ambil orang. lanjut Febrian cemas. Aku suka sifatnya yang to the point. Langsung ke inti permasalahan seperti ini.
Kalau kamu takut dia di ambil orang, buruan nyatakan cintamu! Urusan diterima atau enggak itu sih belakangan. Yang penting kamu udah bilang dan seenggaknya belum ada kata menyesal kan? saranku pada saat itu.
Serta-merta lengkungan kecil pun tercetak indah dibibir mungil Febrian. Ia menjentikkan jarinya seraya berseru, Kamu benar Ra! Aku bakal nembak dia secepatnya.

Ya, seingatku hanya itu curahan hati Febrian kemarin. Apa jangan-jangan dia?
Dan sekarang kamu udah jadian? tanyaku tiba-tiba, memecah keheningan yang sempat menguasai kami selama beberapa menit. Entahlah, kini aku merasa was-was. Aku takut mendengar jawaban Febrian. Kalau dia bilang Iya, itu artinya bukan aku gadis yang Febrian maksud kemarin.
Yeap! Tadi malam Sasa nerima aku Ra! Thanks yah? Ini semua berkat saran kamu. Dalam sekejap aku sudah berada dalam pelukan Febrian. Terdiam dengan napas yang tertahan. Jadi gadis itu?
Sasa? gumamku nyaris berbisik. Dunia seakan runtuh. Menindih tubuhku hingga aku kesulitan bernapas. Dadaku sesak. Rasanya seperti melayang tinggi di udara lalu  dihempaskan tiba-tiba hingga jatuh ke bawah padang mawar yang berduri. Sakit!
Aku tersiksa karena kenyataanku sendiri. Kenyataan bahwa aku tidak mampu memiliki Febrian. Febrian bukanlah untukku, dan aku juga bukan untuk Febrian.

***

Kucoba jalani hari dengan pengganti dirimu..
Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu..

.............

Sahabat jadi cinta itu adalah takdir.
Seperti aku yang ditakdirkan untuk mencintaimu.

Sahabat jadi cinta itu suatu proses.
Seperti aku yang kini sedang dalam proses untuk melupakanmu.

Sahabat jadi cinta itu sudah biasa.
Sangking biasanya, kini hal itu juga terjadi diantara aku dan kamu.

Sahabat jadi cinta itu...................

Arrrrrgggghhhh! Dengan kesal ku remas kertas putih yang tadinya kucoreti dengan berbagai kata bertemakan Sahabat Jadi Cinta, hingga kertas itu pun kumal terlipat-lipat. Bodoh! Yah, aku memang bodoh. Tidak seharusnya aku menyalah-artikan kasih sayang yang selama ini Febrian berikan. Seharusnya sejak awal aku sadar jika dia hanya menyayangiku sebagai sahabat! Bukan sayangnya Romeo terhadap Juliet atau bahkan cintanya Qais pada Laila. Perhatian yang Febrian beri untuk Ara is just a friend! Yah, hanya sebatas itu. Memang aku-nya saja yang terlalu PD, ke-GR-an. Dasar Ara bodoooooooh.......!

DORRRR! Tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang. Aku terkejut hingga nyaris terjungkal kebawah. Dan untungnya pada saat itu aku cepat-cepat berpegangan erat pada tepian meja belajarku. Kalau tidak, mungkin pinggulku yang akan jadi sasarannya.
Buru-buru aku memutar badan, Ya ampun Azka! Ngagetin aja ih! seruku melotot garang ketika tahu siapa orang yang telah berbuat iseng, mengejutkanku seperti itu.
Dan dia adalah Azka, anak kelas sebelah yang berstatus sebagai pacar pertamaku. Pemuda berkulit sawo matang itu menyatakan cintanya padaku seminggu setelah Febrian menyebarkan berita prihal hubungannya dengan Sasa. Terus terang aku tidak sedikitpun menaruh rasa pada Azka. Aku terpaksa menerima cintanya. Eunggg~ lebih tepatnya aku SENGAJA menerima Azka, dengan harapan aku dapat melupakan Febrian. Ya, aku memang jahat! Tapi ini satu-satunya cara yang bisa kulakukan agar sakit hati itu lenyap. Sirna tanpa perlu meninggalkan jejak.
Kini Febrian sudah menjadi milik Sasa dan aku lihat dia bahagia. Sebagai sahabat sudah sewajarnya aku pun ikut bahagia. Walau ini susah, namun akan aku coba.

Maaf deh, Ra. Lagian kamu masih pagi udah ngelamun aja. Azka mencondongkan sedikit tubuhnya. Perlahan ia pun merebut kertas putih yang nampak lecek dari kepalan tangan kananku. Ini apa? tanyanya seraya membuka kertas yang lusuh itu.
Aku ingin mencegahnya, tapi terlambat! Azka lebih dulu membuka kertas itu dan membacanya dengan seksama. Sekarang aku hanya bisa pasrah. Menggigiti bibir bawahku sembari menanti reaksi yang Azka berikan ketika ia sudah selesai membaca isi dari kertas tersebut. Apakah dia akan marah? Oh Tuhan, aku mohon jangan.
Setelah kurang lebih 3 kali Azka membacanya berulang-ulang, ia pun kembali menaruh kertas itu di atas meja dan menatapku dalam-dalam.
Aku lihat raut wajahnya berubah. Mengeras, tidak selembut biasanya.
Dengan cepat aku menunduk. Rasanya aku sudah tidak tahan menatap sepasang mata elang milik Azka yang menyimpan sebuah kekecewaan terhadapku. I know, ini memang salahku.
Maaf, Hanya satu kata itu yang akhirnya terucap dari bibirku yang sekian lama terbungkam. Itu pun aku ucapkan dengan nada yang bergetar. Aku takut.
Aku tahu kok Ra. Sahabat jadi cinta itu maksudmu Febrian kan? Jatuh cinta dengan sahabat sendiri sudah biasa lagi. ucap Azka tersenyum santai. Reaksinya sungguh diluar dugaanku! Dia tidak langsung memaki ataupun membentakku. Justru dia mengucapkannya dengan nada yang tenang. Sedikit demi sedikit aku pun mulai berani mengangkat wajahku. Tapi, please Ra, sekarang kamu udah jadi milik aku. Apa perlu aku jadi sahabatmu dulu biar kamu bisa mencintai aku? lanjutnya menohok tepat dijantungku.
Aku terdiam, bersusah payah menelan ludah dengan bibir yang semakin kelu. Ternyata Azka memilih untuk menggunakan sindiran yang halus. Memang tidak kasar, tapi rasanya jauh lebih sakit.
Semenit...
2 menit....
3 menit sudah berlalu, namun tidak ada satu kata pun jawaban yang bisa keluar dari mulutku. Rasanya bibirku seperti tergembok dan susah sekali untuk dibuka.
Untungnya tidak lama kemudian bel masuk langsung berbunyi. Membuat Azka menghela napas berat seraya --mau tidak mau-- berlalu pergi meninggalkanku.
Maaf Ka, lirihku dalam hati. Aku menyesal dengan keputusan yang kemarin kuambil. Keputusan yang secara tidak sengaja membuatku menyakiti hati Azka. Karena kenyataannya, walaupun ragaku menjauh dari Febrian, tetap saja hatiku tidak bisa berpaling darinya.
Sekali lagi maaf Ka. Tidak seharusnya aku melakukan ini padamu. Menjadikanmu sebagai tempat pelampiasan sakit hatiku terhadap Febrian.

Keesokan harinya.....
Pagi-pagi sekali pintu kamarku sudah diketuk oleh seseorang. Jujur saja, aku masih mengantuk, aku masih ingin berkutat dengan bantal, guling, selimut, dan spring bed-ku yang empuk. Tapi, bunyi ketukan pintu itu benar-benar berisik dan mengusik tidurku. Hoh! Baiklah. Dengan langkah gontai kuhampiri pintu kamarku yang bercorak kupu-kupu. Ku buka knop-nya perlahan dan nampak didepanku sosok tegap Febrian berdiri di ambang pintu dengan bibir yang mengulas senyum.
Feb---
Good morning my sweety Ara,
Suara ini?! Refleks bibirku terkatup ketika sadar bahwa suara halus yang kudengar kini bukanlah suara yang biasanya aku kenal. Ini bukan suara Febrian! Tetapi suara............
Azka? gumamku masih tak percaya. Setelah sempat mengerjapkan mata beberapa kali, barulah aku yakin bahwa yang ada didepanku kini memang bukanlah Febrian, melainkan Azka. Ternyata aku hanya berhalusinasi saja. Tapi untunglah kata Febrian belum seutuhnya keluar dari mulutku. Kalau seandainya itu terjadi, entah untuk yang keberapa kalinya aku menyakiti hati Azka.

Azka terkekeh ringan, menyaksikan raut wajahku yang nampak konyol di pagi ini. I know, aku pasti terlihat kacau sekarang! Dengan tergesa-gesa aku pun melangkah menuju wastafel. Menggosok gigi dan mencuci muka hingga lebih dari dua kali. Dari cermin wastafel aku juga dapat melihat Azka yang masih bertengger didepan pintu, sebelah tangannya membawa sebuket bunga mawar yang cantik.
Untukku yah? Dalam rangka apa? tanyaku kembali menghampiri Azka.  Pemuda itu menyodorkan bunganya dihadapanku ketika aku sedang mengusap wajahku dengan handuk.
Happy sweet seventeen my sweetheart, love you always ya. ucapnya lembut sambil mengacak-acak puncak kepalaku.
Aku ulang tahun? Ya ampun, bahkan aku sendiri lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunku. Langsung saja ku terima bunga pemberiannya seraya mencium baunya yang ternyata sangat wangi.
Thank you Ka, jawabku balas tersenyum. Sejenak aku termangu. Akankah Febrian juga mengingat hari ulang tahunku? Ah, bahkan dalam keadaan seperti ini aku masih saja memikirkannya.

***

Tuhan maafkan diri ini yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya..
Namun apalah daya ini????
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta dia..

.............

10 mei??? Tidak ada yang istimewa dengan tanggal ini. Hanya saja, di tanggal 10 mei ini aku berulang tahun yang ke-17. Sederhana, karena aku rasa semua orang pasti mengingat tanggal di mana mereka lahir dan menjadikannya sebagai momen yang patut dirayakan. Berbeda denganku, andai saja Azka tak datang ke rumah pagi ini, mungkin aku takkan pernah ingat jika hari ini adalah hari kelahiranku. Yah, pelupa itulah aku.

Disaat matahari mulai menggantung rendah di langit, aku pun mematut diri didepan cermin. Kulirik layar handphoneku yang menampilkan pesan singkat dari sebuah nomer asing. Sebuah sms yang baru saja masuk beberapa menit lalu.
Ku tunggu kehadiranmu di Taman Kota malam ini jam 07:00 tepat. Kubaca berulang-ulang pesan tersebut hingga kerutan didahiku mencapai empat lipatan. Siapa yang mengirimiku pesan singkat ini yah??? Pikirku terheran-heran. Sebenarnya aku tidak suka yang dengan hal-hal yang berbau misterius. Tapi, berhubung ini adalah hari ulang tahunku, aku rasa tidak ada salahnya jika aku menuruti perintah dari sms tersebut. Lagipula seharian berdiam diri di rumah hanya akan membuatku suntuk!
Setelah berdandan ala kadarnya, aku pun pamit untuk keluar rumah sebentar kepada Ayah dan Bunda yang tengah duduk santai di ruang keluarga. Aku sendiri tidak tahu, apakah mereka ingat hari ulang tahunku atau tidak? Yang jelas mereka belum ada mengucapkan happy birthday untukku. Tak masalah, jika memang mereka lupa. Yang menjadi masalah buatku adalah jika mereka ingat tapi tidak mau mengucapkan atau malah sengaja melupakannya.

Waktu menunjukkan pukul 18:45 ketika aku telah menginjakkan kaki di Taman Kota.
Tidak biasanya taman ini nampak lengang, tanpa ada satu orang pun yang berseliweran. Sejenak aku merasa takut dan was-was. Apakah ada orang yang ingin berniat jahat padaku?
Jangan takut, aku ada disini. samar-samar seruan seseorang berhasil menepis rasa takut yang menyelimuti perasaanku. Dengan cepat aku berbalik, mencari sumber suara itu.
Ayo, jalan terus! Sedikit lagi. Kuikuti arah suaranya dengan jantung yang berdebar kencang. Mungkin seseorang ingin memberiku kejutan. Tapi siapa orang itu? Mungkinkah ia Febrian? Lagi-lagi sosok itu yang ada dibenakku. Tanpa memberikan kesempatan pada sosok lain untuk sejenak menggantikannya.
Lalu, tiba didekat air mancur, langkah kakiku terhenti. Terdengar bunyi petikan gitar yang akhirnya mengantarkanku pada sosoknya. Sosok yang selalu menghantui pikiranku. Sosok yang selalu kuimpikan. Sosok yang selama ini menguasai celah kosong dihatiku. Sosoknya yang kini telah menjadi milik orang lain.

Kupandangi gestur tubuhnya dari belakang, dan aku yakin dialah sosok yang kucari. Febrian?

Namun ternyata sosok itu hanya siluet palsu. Bayangan gelap yang tak mungkin bisa menjadi nyata.

Aku Azka, Ra. Bukan Febrian. jawabnya seraya berbalik. Bersamaan dengan itu bayangnya pun menghilang, berganti dengan sosok nyata Azka yang tersenyum miris menatapku.
Azka? Dan aku hanya mampu menggeleng lemah ketika semilir angin malam membangunkanku dari angan-angan semu, menyadarkanku bahwa dia adalah Azka, bukan Febrian.


Tanah Grogot, 31 Oktober 2011.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar