Pura Pura Cinta

Minggu, 30 Oktober 2011

^Piece Love Story (A Betrayal)^



_Piece Love Story (A Betrayal)_

Author : Minah Syalalabibeh
Main Cast : Mario Stevano, Alyssa Drake, Ashilla
Genre : Romance, Sad story.


***

Teringat akan masa lalu yang kita lewati..
Terasa indah, sejuk meresap didalam sanubari..
Walau duka sempat singgah..
Hadapi bersama, bahagia selalu dihatiku..

..........

`PRANGGGGG....!`
Bunyi guci antik yang dihempaskan keras kebawah lantai, membuat gadis berwajah tirus itu refleks mengangkat bahunya keatas. Matanya terpejam erat tak mau melihat `perang kecil` yang lagi-lagi dipicu karena kehadirannya tersebut.
Sudah berapa kali Mom harus peringatkan kepadamu? JANGAN MEMBAWA GADIS KAMPUNG ITU KERUMAH! Kenapa kau selalu saja membangkang hah?! Kau tahu? Dia TAK PANTAS hadir dipesta ini! gertak seorang wanita paruh baya kepada anak lelakinya yang sudah beranjak remaja. Tangannya mengepal, seolah menggenggam amarah yang luar biasa dahsyat kepada kekasih anaknya yang disebut gadis kampung tadi. Bagaimana tidak? Sudah berulang kali wanita itu memperingatkan anaknya agar tidak membawa kekasihnya itu kerumah, tetapi sang putra seakan menuli. Malah terkesan menantang!
Dan ini adalah untuk yang pertama kalinya wanita tersebut membentak anaknya didepan puluhan pasang mata yang hadir dipesta itu, terlampau geram!

Dihadapannya sang anak pun tersenyum miring.
Kehabisannya sudah habis tatkala mendengar cacian Ibunya yang lagi-lagi harus mengatakan gadis kampung kepada gadis yang ia cintai.
Tak adakah kata-kata yang lebih indah daripada itu?
Ini pestaku! Mom tidak berhak untuk mengatur siapa-siapa saja yang sepatutnya hadir diacara ini. Dan dia, pemuda itu terdiam sejenak. Lalu, menarik napas pendek sambil menggenggam hangat tangan gadisnya, Adalah tamu special yang aku undang. lanjutnya mantap.

Sepasang mata milik Mrs. Amanda -- si wanita itu-- membulat kaget.
Tak percaya atas apa yang sudah anaknya ucapkan barusan.
Apakah itu sama maknanya dengan ;  gadis kampung tersebut lebih berarti  dibandingkan dirinya?
Kau?! Kenapa kau lebih membela gadis itu daripada mendengarkan ucapan Ibumu sendiri hah?! Kau mulai berani yah sekarang! Apa sih kelebihannya gadis kampung ini, hingga kau sampai tergila-gila dengannya?
Dalam sekejap Mrs. Amanda mengalihkan pandangannya ke wajah gadis itu.
Mata bulat, hidung mancung, dagu lancip, serta pipi tirus adalah bagian wajah dari wanita remaja tersebut, yang dibungkus dengan rambut panjang berwarna cokelat dan agak bergelombang dibagian bawahnya. Manis, jika dipandang dari wajah!
Tetapi, jika dilihat dari caranya berpakaian, gadis itu tak ubahnya dengan anak kampung yang baru saja masuk kota. Semua pakaian yang dikenakannya --sebenarnya-- sangat terlihat sederhana, namun terkesan serampangan dimata Mrs. Amanda. Disaat semua gadis remaja seumurannya memakai hot pants dan tank top ketat, gadis itu malah mengenakan rok selutut dengan t-shirt ataupun kemeja yang agak kedodoran. Ditambah lagi, tak ada satupun aksesoris berharga yang menghias ditubuhnya. Tak ada bedak, tak ada lipgloss, tak ada eye shadow, tak ada maskara, dan tak ada blush on. Yah, wajahnya polos tanpa make-up!
Well, Mrs. Amanda rasa kampungan adalah julukan yang pas untuknya! 
Mrs. Amanda tersenyum mengejek. Lalu, dengan nada yang angkuh ia pun berujar.
Apa istimewanya dirimu hingga Stevano begitu terhipnotis seperti ini? KAU APAKAN ANAKKU HAH?!! bentaknya dengan nada yang tinggi diujung kalimat.
Membuat seluruh pasang mata yang ada diruangan itu menatap fokus pada dirinya, si sumber keributan.

`GLEKKK...!` gadis itupun menelan ludah ketika melihat wajah garang Mrs. Amanda yang berada tepat dihadapannya. Seperti hendak menelan dirinya hidup-hidup, sangat terlihat menakutkan!
Belum sempat ia menjawab barang satu katapun, Mrs. Amanda malah kembali menyahut, Hoh! Aku curiga anakku sudah terkena guna-guna, peletmu yang murahan itu. Dasar anak kampung selalu saja menggunakan sihir! tudingnya tajam. 

`BRUGHHHHH....!`
Dalam sekali dorongan saja, tubuh kurus gadis itu langsung jatuh terjerembap diatas lantai keramik yang mengkilat. Dan akibat menopang tubuhnya agar tidak 100 % terjatuh, telapak tangan kanannya pun harus terluka. Terkena serpihan guci yang Mrs. Amanda pecahkan tadi.

Mom?! Kenapa Mom lakukan itu padanya?! Mom sungguh tak punya hati!

Perlahan-lahan anaknya yang dipanggil Stevano itu membantu gadisnya berdiri.
Dipandanginya sang Ibu dengan tatapan yang nanar.
Okey, kalau hanya sekedar mengejek atau membentak itu tak masalah! Tetapi kalau sudah mendorong apalagi sampai terluka seperti ini, tentu akan menjadi masalah yang besar buatnya.

Sweety, kau tidak apa-apa kan? tanya Stevano, perhatian.
Gadis itu mengangguk lemah, dengan kepala yang masih tertunduk dalam-dalam, tak berani mendongak.
Kalau begitu ayo kita pergi. ajak pemuda itu menggamit lengan sang gadis seraya membawanya keluar dari sana.
STEVANO! WHERE DO YOU WANT?! teriak Mrs. Amanda berusaha menghentikan langkah anaknya.
Namun sayangnya, Stevano sama sekali tak menghiraukan seruan Mrs. Amanda. Sungguh! Birthday party yang seharusnya berjalan dengan penuh kebahagiaan, begitu terasa suram malam ini.
Tak ada tawa, tak ada canda, tak ada keceriaan seperti dipesta-pesta ulang tahun pada umumnya. Sangat menyedihkan.

..........

Namanya adalah Alyssa Drake,  seorang gadis yatim piatu asal Bald Slope yang bersekolah di Bignius High School melalui jalur beasiswa.
Tak ada cara lain yang bisa ia lakukan untuk melanjutkan pendidikannya, selain mengikuti serangkaian test yang panjang itu.
Dan beruntung dia adalah 1 dari 5 orang pelajar asal Bald Slope yang terpilih untuk mengenyam pendidikan dibangku sekolah favorite asal Kanada tersebut.

Dulu, ia selalu merasa aneh hidup di Kota Kanada. Tak ada satupun orang yang ia kenal disana. Terasa asing!
Berbekal uang US 500$ yang diberikan oleh sang Nenek, pergilah ia mencari motel yang letaknya dekat dengan BHS, untuk tempat tinggalnya selama 3 tahun ia menetap di Kanada.

Dan guna mencukupi segala kebutuhannya, gadis yang biasa dipanggil Alyssa itu pun bekerja paruh waktu di café milik Stevano. Siswa BHS yang juga seangkatan dengannya.
Alyssa tak pernah menyangka jika pemuda yang memutuskan untuk menjadi teman sebangkunya itu menaruh hati terhadapnya.
Well, Alyssa akui, sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di BHS Stevano memang suka memperhatikannya.
Mengamati gerak-geriknya dengan seksama, hingga terkadang membuat dirinya risih sendiri.

Namun pada saat itu Alyssa pikir, Stevano memandangnya seperti itu dengan satu maksud yang sama layaknya murid BHS lainnya, yakni mengejek penampilan Alyssa yang bisa dibilang kampungan bagi remaja yang hidup di kota.
Tapi ternyata dugaannya salah! Stevano justru mengagumi cara Alyssa berpakaian. Rapi dan simple! Tidak seperti cara berpakaian siswi BHS lainnya yang terkesan seperti kekurangan bahan.
Disaat umurnya menginjak 15 tahun, Alyssa hanya menganggap Stevano sebagai sahabat.
Walaupun ia mengaku nyaman setiap berada didekat pemuda tampan itu, tapi tetap saja ia belum siap menyandang status berpacaran.
Lalu, ketika memasuki usia 17 tahun barulah ia menerima Stevano menjadi kekasihnya. Teman dekat yang selalu memberikan surprise dihidupnya. Yah, teman untuk berbagi suka dan juga duka.

Alyssa mengaku, semenjak menjalin hubungan dengan Stevano, hidupnya menjadi lebih berwarna.
Kertas yang tadinya hanya dicoret dengan tinta berwarna hitam, putih, dan abu-abu kini sudah bercampur dengan warna merah, kuning, hijau, dan juga biru.
Indah, seindah pelangi!

Namun, yang namanya hidup, batu penghalang itu pasti ada.
Ibarat kata jalanan diperkampungan, tak selalu mulus seperti dijalan tol! Ada saja kerikil-kerikil kecil atau malah lubang besar yang dapat menghambat perjalanan seseorang.
Sama seperti dengan hubungan Stevano dan juga Alyssa. Restu Ibunda Stevano yang belum mereka kantongi, membuat Stevano dan Alyssa hampir selalu dirundung duka.
Bentakan, cacian, atau makian itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Alyssa.
Jika ditanya sakit hati kah ia? Jawabannya sudah pasti TENTU!
Karena bagaimanapun Alyssa hanyalah manusia biasa yang hatinya bisa saja terluka jika terus-terusan disakiti seperti itu.
Dan andaikan sang kekasih tidak menyemangatinya, pasti Alyssa lebih memilih untuk mundur! Pergi dan mengakhiri semuanya.

Situasi seperti itu terus berlangsung sampai didetik ini.
Diwaktu Alyssa menghadiri acara ulang tahun kekasihnya. Awalnya ia ragu, takut diusir seperti yang sudah-sudah. Tapi karena Stevano yang memaksanya, ya apa boleh buat?

Sudah aku bilang Ibumu pasti akan marah besar jika kau mengundangku. Ck! Seandainya kau tidak memaksa, tentu ini tidak akan pernah terjadi.
Alyssa menghentikan langkahnya dan ikut terduduk dibangku panjang yang Stevano duduki.
Pandangannya menyisiri setiap sudut kawasan, tempat dimana Stevano membawanya kini.
Oh, ternyata taman kota yang menjadi tujuan kekasihnya itu. Tidak buruk!
Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu terluka seperti ini. sesal Stevano dengan wajah menunduk.
Alyssa terkekeh, lalu diangkatnya dagu sang pemuda dengan jari telunjuknya.
Never mind, aku baik-baik saja kok! Aku hanya tidak ingin hubunganmu dengan Tante Amanda rusak karena kehadiranku. tuturnya pelan. Sedikit tersenyum, lalu kembali menyambung, Lagipula apa yang Ibumu katakan tadi benar Stev! Aku hanyalah gadis kampung yang tidak pantas hadir dipesta ulang tahunmu. Kau dan aku berbeda! Seharusnya kita akhiri saja hubungan ini dari dulu.
Alyssa tersenyum getir. Tatapannya terpaku pada keindahan langit malam yang terbentang dengan luas.
Bertabur gugusan bintang lengkap dengan bulan sabitnya. Tetapi, menatap kecantikan alam raya itu sama sekali tidak membuat hati Alyssa tenang.
Hampa itu masih ada. Singgah dan mengisi hampir separuh bagian dipalung hatinya.
Dalam hati Alyssa bergumam, mengapa zaman sekarang masih ada yang namanya cinta terlarang? Cinta yang dilarang oleh orang tua dan juga cinta yang terhalang derajat atau yang lebih dikenal dengan status sosial. Apakah cinta hanya milik orang-orang yang ber-uang saja? Oh sungguh tak adilnya dunia ini!

Stevano mendesah berat seraya menggenggam lembut tangan Alyssa. Seolah memberikan kekuatan untuk gadisnya agar bertahan barang sedikit lagi saja.
Hubungan mereka sudah terjalin selama 2 tahun! 24 bulan atau 96 minggu lamanya. Sayangkan jika harus dilepaskan begitu saja?
Jangan berkata seperti itu Alyssa. Aku mohon bertahanlah untuk aku, demi cinta kita berdua. Yakinlah semua akan baik-baik saja, toh kita akan hadapi cobaan ini bersama-sama kan? bujuknya dengan tatapan sayu, sangat memohon.
Dan seperti yang sudah-sudah, Alyssa akan tersenyum manis lalu mengangguk. Mengiyakan keginginan Stevano.
Tak ada alasan untuk Alyssa menolak! Karena menurutnya, bujukan pemuda itu bagaikan cambuk yang menyemangati dirinya untuk terus bersabar, hingga tiba masanya kebahagiaan itu datang dan berhasil ia raih.

`TESSS....!`
Setetes darah segar mengalir dari telapak tangan Alyssa dan mengotori celana jeans yang kekasihnya kenakan.
Haduh, rupanya gadis itu lupa membersihkan lukanya!
Semula Alyssa ingin menyembunyikan luka itu dari Stevano, tapi keburu pemuda itu melihatnya.
Tanganmu berdarah?! tanya Stevano panik.
Alyssa mengangguk ragu, Hanya luka kecil kok. jawabnya santai.
Honestly, lukanya memang kecil, tapi perihnya begitu terasa!
Berbohong sedikit tak apa-apa kan? Ia hanya tidak ingin Stevano kembali menyimpan rasa marah kepada Ibunya.
Sudah cukup tak perlu ditambah-tambah lagi.
Mom benar-benar keterlaluan!
Alyssa menggigit kecil bibir bawahnya ketika mendengar desis kecewa yang keluar dari mulut Stevano. Pertanda buruk! Ia yakin sepulang dari sini, semua tidak akan baik-baik saja.
Biar aku obati yah?
Stevano mengagetkan Alyssa dengan menarik telapak tangan gadisnya.
Secepatnya Alyssa menolak, Tidak perlu repot-repot Stev! Aku bisa mengobatinya di motel nanti.
Jangan, itu terlalu lama! Sekarang saja yah? Aku takut kau infeksi. cemas sang pemuda sembari mengeluarkan sehelai sapu tangan yang terselip disaku bajunya.
Alyssa hanya diam tanpa kata.
Percuma! Mau menolak dengan alasan apapun juga, toh Stevano pasti akan tetap memaksanya.

Dibawah naungan rembulan malam, Stevano dengan begitu telatennya mengobati luka Sang kekasih.
Membersihkan bekas darahnya dengan sebotol air mineral yang ia beli di stand terdekat, lalu setelah bersih ia pun langsung membalut luka Alyssa dengan memakai sapu tangan tadi.
Semua ia kerjakan dengan penuh hati-hati dan juga perasaan.
Thank you my sweetheart. Kau begitu baik! puji Alyssa tulus.
Stevano hanya tertawa kecil sambil mengacak-acak poni yang menutupi dahi gadisnya.
Sudah seharusnya Alyssa! Kau kan kekasihku, permata cantik yang wajib aku jaga. godanya hingga membuat pipi Alyssa bersemu merah muda.
Semburat malu-malu itu semakin terlihat jelas akibat terpaan cahaya keemasan yang dipancarkan oleh sang dwi malam.
Begitu berkilau! Bahkan lebih berkilau dari emas batangan yang dijual ditoko-toko perhiasaan.

Awww~ kau selalu saja menggodaku!
Alyssa tersenyum manja.
Kini, ia boleh saja menjadi permata dihati Stevano.
Tapi nanti? Siapa yang tahu jika tiba-tiba berlian datang lalu berhasil menggeser posisi permata dihati pemuda itu? Karena pada hakikatnya, derajat berlian tentu lebih tinggi dibandingkan permata. Ya! Hanya waktu yang bisa membuktikan semuanya. Membuktikan bahwa cinta juga bisa berpaling dengan mudahnya.

***

Kini hilanglah sudah kisah tinggallah kenangan..
Saat dia datang..
Menghampirimu dengan segala janji..
Berikan sudah semua atas nama cinta..
Hapuskan cerita kita..

..........

Pagi yang dingin di Kota Kanada.
Burung-burung berkicau dan daun-daun berguguran seolah mengucapkan selamat datang kepada musim semi.
Beberapa murid BHS tampak berlalu-lalang dikoridor kelas masing-masing. Ada yang sendiri, berdua, atau bahkan berkelompok.
Kebanyakan dari mereka terlihat asyik bersenda-gurau sambil menunggu lonceng dibunyikan.
Berbeda dari teman-temannya yang lain, Alyssa lebih memilih untuk berdiam diri dikelas. Memusatkan pikirannya pada sebuah buku paket kimia yang tak terhitung berapa banyak jumlah halamannya.

Alyssa! Help me please~
Gadis itu mendongak tatkala mendengar suara laki-laki yang sangat khas ditelinganya, menyerukan namanya dengan nada yang memohon.
Ya, ada apa Stev?
Alyssa menutup buku paket kimianya, lalu menatap kekasihnya yang tampak gelisah entah karena apa?
Semalam aku ketiduran dan aku tidak sempat mengerjakan PR matematika! Haduh bagaimana ini? Bisa-bisa aku dihukum oleh bapak berkepala botak itu Lyss. Tolong bantu aku! Aku mohon?
Stevano menjelaskannya dengan napas yang terengah-engah. Raut cemas diwajahnya pun terlihat kentara sekali, membuat Alyssa tak tega untuk mengacuhkannya.
Hah! Kau ini kebiasaan sekali. Giliran menonton bola saja sempat! Tapi kenapa setiap mengerjakan PR tidak pernah sempat? Kau selalu saja tak punya waktu dan berlagak seakan-akan kau adalah orang TERSIBUK didunia ini. cerocos Alyssa mengomeli kekasihnya. Eunggg~ menyindir lebih tepatnya!
Sambil melirik wristwatch yang menghias dipergelangan tangan kirinya, gadis berbandana pink itu berujar dengan lembut, Masih ada waktu kurang dari 20 menit lagi.
Stevano mendelik, jadi?????
Baiklah aku akan membantumu! ucap Alyssa seraya mengeluarkan buku paket matematika dari dalam tas selempangnya yang tersimpan rapi dibawah kolong meja.
Sepasang mata elang milik Stevano langsung berbinar-binar ketika mendengarnya. Ia merasa tak pernah salah dalam memilih kekasih! Bukankah kekasih yang baik tidak hanya hadir dikala kita senang saja? Menurutnya Alyssa adalah contoh kekasih yang baik.

Sebenarnya tidak ada yang sulit jika kau mau belajar. Hanya saja kau yang terlampau malas! Terbiasa mengibarkan bendara putih sebelum berperang. Padahalkan give up before trying itu tidak bagus Stev.
Stevano menepuk jidatnya dengan pelan, My God! Alyssa yang cantik kalau kau ceramah terus kapan kau mengajariku? Yang ada Mr. Botak itu akan lebih dulu masuk kedalam kelas sebelum ceramah pagimu itu berakhir. Oh sweety aku berjanji setelah PR ku selesai aku akan mendengarkan ceramahmu yang panjangnya melebihi tembok cinta itu tanpa mengeluh barang satu katapun. I promise! Percayalah. cerocosnya tanpa jeda.
Alyssa terkikik geli. Entah apa yang lucu? Yang jelas setiap pemuda itu bersungut selalu berhasil menggelitik perutnya hingga memaksanya untuk tertawa dengan lepas.
Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menceramahimu! Aku hanya ingin kau berubah Stev.
Fine, aku akan berubah tapi tidak sekarang.
Hoh! Kau ini benar-benar-----
Tampan! Iya kan? Itu sudah menjadi rahasia umum karena semua orang sudah mengetahuinya sejak dulu.
Steeeeeeev~
Stev sudah mati! Sekarang ayo bantu aku mengerjakan PR!
Oh my god, kau sangat menyebalkan!
Dan kau sangat menggemaskan!

Alyssa melengos sebal. Dalam hal adu mulut Stevano memang 1 tingkat berada diatasnya, dan itu mengesalkan! Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, gadis itu langsung menarik buku tugas milik Stevano.
Menuliskan berbagai macam rumus matematika disana, lalu menyuruh sang pemuda untuk menghitungnya seorang diri.
Kerjakan sebisamu dan akan aku periksa setelahnya. perintah Alyssa menyerahkan buku tugas matematika tadi ke tangan Stevano.
Stevano mengangguk malas. Cukup lama ia berjibaku dengan buku tugasnya, entah apa yang sebenarnya ia kerjakan?
Bolpoin berwarna emas yang ada ditangannya menari dengan indah di atas kertas yang awalnya putih bersih tanpa noda.
Raut wajah Stevano kini tampak serius tatkala bolpoinnya naik-turun bergerak keatas dan kebawah. Air muka ter-serius yang pernah Alyssa lihat dari seorang Stevano. Dan jika Alyssa boleh menebak pemuda itu terlihat seperti merangkai kata, bukan menghitung angka.

Tak kuasa menahan rasa heran dibenaknya, Alyssa pun bertanya.
Apa yang kau lakukan?
Stevano menengok kesamping, memandang Alyssa dengan senyumannya yang khas. Nanti kau juga akan tahu. katanya sok misterius. Alyssa hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu ia pun kembali memunggungi Stevano yang masih sibuk dengan buku tugas miliknya tersebut.

Tak lama setelahnya, apa yang dikerjakan oleh pemuda itu pun selesai. Stevano mencolek punggung Alyssa seraya menyerahkan sebentuk buku bersampul hijau daun ketangan gadis itu.
A million times? Alyssa mengeja judul besar yang tertera disudut kanan paling atas. Apa-apaan ini? Gadis itu menatap tidak percaya. Kedua matanya melebar seketika. Dibacanya berulang-ulang kali setiap rentetan kalimat yang tertoreh dibuku tugas matematika kepunyaan sang kekasih yang kini berada digenggamannya tersebut.

•••••

          <3 A Million Times <3

A million times I have told you I love you...
A million times I will tell you again...

I take you in my arms and hold you tight
Because I know this is right...

I love you more than there are stars in the sky...
I love you so much I hate to say goodbye...

You are the one, the one for me...
I will always be there like I said I would be...

There are bridges that we have to conquer...
I know you worry, but we will not falter...

Please be mine now and forever...
I will be yours for ever and ever...

I wrote this poem just for you...
Because I know our love is true...

I have told you a million times again...
I will love you till the end...


                       With Love~
=MaStev=

•••••

Alyssa menatap wajah kekasihnya dengan murka.
Bukankah ia menyuruh Stevano untuk mengerjakan tugas matematikanya? Tetapi pemuda itu malah membuang-buang waktu dengan menulis puisi berjenis rayuan yang tak penting seperti ini. Hah! Kekasihnya itu benar-benar membuatnya emosi saja!
Sembari menyerahkan buku tulisnya ketangan Stevano, Alyssa berseru dengan galak. Hi boy, what are you doing? Aku menyuruhmu untuk menghitung bukannya merangkai kata-kata gombal seperti ini. Kau ini benar-benar-------

Alyssa berhenti mengoceh dan mengatup mulutnya rapat-rapat ketika sebuah bibir menempel dipipi kanannya. Milik siapa lagi kalau bukan milik kekasihnya?
Untuk waktu yang cukup lama Alyssa dapat merasakan hangatnya napas Stevano yang berhembus dengan lembut dikulitnya hingga merasuk kedalam pori-pori diwajahnya.
Sementara itu masih dengan posisi bibir yang menempel dipipi Alyssa, Stevano pun bergumam pelan. I love you so much and I hate to say goodbye sweety.

Bulu kuduk Alyssa meremang tiba-tiba.
Desahan napas Stevano yang menyentuh dikulitnya membuat jantung Alyssa berdetak kencang, sekencang tornado.
Dan bagaikan dihujani ribuan bara api, wajah gadis itu tiba-tiba saja merah memanas. Malu, perasaan itulah yang kini menguasai hati kecilnya.

Sungguh Alyssa tidak dapat menyembunyikan sepasang pipi tirus miliknya yang tampak blushing hanya karena kecupan dipipi saja.
Setelah Stevano melepaskan ciumannya barulah gadis itu mengatur kembali hatinya yang sempat jungkir-balik tak karuan.
Sebisa mungkin ia bersikap biasa saja dan seolah tidak terjadi apa-apa.

Waktumu semakin sempit Stev! Ayo cepat kerjakan PRmu! suruh gadis itu lagi. Sengaja untuk menutupi kesaltingannya.
Tidak perlu buru-buru, toh aku juga bisa mengerjakan diwaktu istirahat nanti. jawabnya enteng.
Alyssa melongo, kurang mengerti.
Apa kau lupa? Matematika kan pelajaran yang terakhir. Masih ada banyak waktu untuk aku mengerjakannya sweety. Pasti kau lupa yah? Dasar bodoh! ejek Stevano menjulurkan lidahnya. Matematika? Istirahat? Pelajaran terakhir? Maksudnya?
Spontan gadis itu menepuk jidatnya lalu kemudian melotot kearah Stevano dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada.
Hoh! Jadi tadi kau membohongiku yah?!
Menurutmu?
Kau sangat menyebalkan!
Dan kau sangat menggemaskan!
Steeeeeeev~
Stev sudah mati! sela sang kekasih dengan nada yang santai.

..........

Jam raksasa yang menjadi simbol keagungan di Bignius High School berdentang 8 kali, dan itu artinya jam pelajaran pertama akan segera dimulai.
Didalam kelasnya Alyssa terlihat asyik bercanda ria dengan Stevano sembari menunggu kedatangan guru kimia yang akan mengajar dijam pertama. Sumpah demi apapun itu, Alyssa sangat membenci mata pelajaran tersebut! Mata pelajaran yang menurut Alyssa paling membosankan didunia ini. Dan --masih-- menurutnya, math lessons more easily than the chemical. Sungguh!

Selamat pagi anak-anak.
Sebuah suara alto yang bersumber dari arah daun pintu, refleks membuat seluruh penghuni di kelas Alyssa menghentikan kesibukan mereka masing-masing.
Dengan gerakan spontan murid-murid tersebut memutar kepalanya kearah bunyi suara tadi berasal. Dan tampaklah Mrs. Josey yang melangkah masuk ditemani dengan seorang gadis asing dibelakangnya.
Mrs. Josey adalah wanita berumur 40-an yang menjabat sebagai Ibu kepala sekolah di BHS. Ia nyaris tidak pernah menjejakkan kaki disetiap kelas masing-masing muridnya, kecuali jika ada yang hal penting saja.
Dan mungkin hari ini memang ada suatu hal penting yang ingin ia sampaikan kepada seluruh penghuni dikelas Alyssa.
Setelah membetulkan letak kacamata minus yang selalu setia bertengger dipangkal hidungnya, Mrs. Josey pun berdehem pelan.
Ehm~ anak-anak, perkenalkan ini adalah teman baru kalian. Sekilas Mrs. Josey melirik kearah gadis berkulit cokelat yang ada disebelahnya. Lalu, ia pun kembali menghadap kedepan. Namanya Ashilla Lynley-White. Dia murid pindahan dari London dan Ibu harap kalian bisa berteman baik dengannya. terang Mrs. Josey yang disambut dengan senyuman ramah dari seluruh murid yang berada didalam kelas tersebut.
Murid baru yang bernama Ashilla itu pun ikut tersenyum sambil sedikit membungkukkan badannya sebagai salam perkenalan.
Nah, Ashilla, kau bisa menempati bangku kosong yang terletak didepan Stevano.
Stevano mengangkat tangan kanannya guna membantu Ashilla agar mengenali dirinya.
Sementara Mrs. Josey pamit keluar, gadis berambut panjang sepunggung itu tersenyum kecil, lalu dengan anggun ia berjalan menuju bangku yang sudah ditentukan oleh Sang Ibu Kepsek.

Siulan atau godaan-godaan nakal yang dilontarkan oleh murid laki-laki dikelas tersebut terus bersahutan ketika Ashilla melenggang santai menuju tempat duduknya.
Maklum, gadis itu sangat terlihat waw dengan baju seragam ketat dan rok lipit yang pendeknya 10 cm diatas lutut. Benar-benar membuat para siswa melongo tak terkecuali dengan Stevano.
Alyssa bisa melihat dengan jelas bagaimana kekasihnya begitu terkagum-kagum memandangi kemolekan Ashilla.
Hah.....! Gadis itu membuang napasnya dengan kasar. Bagaimana tidak? Semakin Ashilla mendekat kearah mereka maka semakin terpanalah Stevano dibuatnya.
Hai, sweety. Perkenalkan my name is Stevano.
Stevano mengulurkan tangannya tepat ketika Ashilla berhenti dibangku kosong yang ada dihadapannya.
Ashilla tersenyum tipis sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Stevano.
Mata cokelat milik mereka saling beradu pandang, dan sepertinya ada kilatan cahaya yang berbeda pada saat itu.
Kemudian, seakan dunia berhenti berputar mereka berdua saling terdiam, membisu satu sama lain dengan posisi yang --masih-- berjabat tangan.
Sepertinya Stevano amat sangat menikmati detik-detik perkenalannya dengan Ashilla, tapi tak tahu kah ia jika seseorang tengah tersakiti karena ulahnya?
Yah, diam-diam Alyssa memperhatikan gerak-gerik kekasihnya itu. Bagaimana cara Stevano menatap lembut Ashilla, mengembangkan senyum termanisnya, dan menggoda gadis tersebut dengan gombalan-gombalannya yang khas. Dan itu terlalu menyakitkan untuk didengar apalagi dilihat!
Ohya Shill, bagaimana kalau istirahat nanti aku temani kau ke cafetaria? Kau belum tahu letak cafetaria disini kan? tawar Stevano ramah.
Ashilla menganggukkan kepalanya tanda setuju. Disatu sisi ia memang belum tahu dimana letak kantin sekolah tersebut, dan disisi lain ia seperti mempunyai maksud tersendiri yang entah apa?
Tepat ketika Ashilla berbalik menghadap kedepan dan meletakkan tasnya diatas meja, Alyssa pun bergumam pelan.
Istirahat saja dengannya, kau tidak perlu mengajakku!
Kau marah yah? Atau kau cemburu?
Pikirkan saja sendiri! Dasar bodoh! Gadis itu melengos seraya mengambil beberapa buku dari dalam tas selempangnya dengan kasar.
Pindah tempat duduk untuk beberapa jam pelajaran ia rasa bukanlah hal yang buruk.

Seiring dengan berjalannya waktu, Alyssa tidak pernah menyangka jika firasatnya selama ini akan menjadi kenyataan.
Terhitung 2 minggu sudah Stevano tak pernah meluangkan waktu untuknya.
Ashilla, si murid baru asal London itu selalu saja mencari-cari alasan agar bisa selalu bersama dengan Stevano.
Entah itu masalah ekskul, kerja kelompok, atau malah minta diantarkan keruang lab IPA yang jelas-jelas letaknya bersebelahan dengan kelas mereka.
Namun, Ashilla masih berusaha untuk sabar. Ia pikir selama tidak ada bukti jika Stevano telah mengkhianatinya maka semua akan aman-aman saja.
Tapi siapa sangka kalau ternyata bukti itu diperlihatkan tepat ketika satu bulan kegelisahan melanda hati Alyssa?
 
Siang itu, Alyssa tengah bersiap-siap untuk menuju Four Season Café, tempat dimana ia bekerja paruh waktu demi memenuhi kebutuhannya.
Dengan memakai rok selutut bermotif bunga-bunga kecil berwarna putih serta t-shirt lengan pendek dengan warna yang senada, Alyssa pun melangkah keluar dari istana kecilnya.
Wajah gadis itu begitu terlihat fresh dengan dandanan yang ala kadarnya saja.

Pun senyuman tulus selalu ia persembahkan mana kala berpapasan dengan para tetangganya yang juga berjalan kaki disepanjang area Mapple Street.
Sambil memainkan handphone ditangannya, gadis itu menggerakkan kakinya dengan riang.
Tak ada setetespun peluh yang terlihat mengalir didahinya.
Yah, Alyssa sangat menikmati perjalanannya menuju Four Season Café. Menurutnya itu bukanlah hal yang melelahkan! Toh sepasang kaki miliknya juga tidak akan bengkak hanya karena berjalan kaki, karena letak tempat kerja Alyssa tidak begitu jauh dari motel tempatnya bermukim.

Zevana, teman seperjuangan Alyssa yang juga bekerja di café milik Stevano itu, tampak sibuk membersihkan meja café ketika Alyssa mendorong pintu masuk yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri kini.
Wanita yang masih berstatus sebagai mahasiswi hukum disebuah Universitas terkemuka di Canada City itu menyapa Alyssa dengan senyumannya yang ramah.
Selamat siang Alyssa, tumben hari ini kau tidak telat!
Alyssa terkekeh.
Ia berjalan mendekati meja kasir dan meletakkan tas pundaknya didekat mesin penghitung.
Hanya kebetulan. jawabnya seraya mengikat tali celemek khas FSC yang melingkari pinggul rampingnya.
Kebetulan bukanlah jawaban yang mengada-ngada karena ia sendiri sadar jika dirinya adalah pegawai ter-NGARET di café ini.
Zevana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya berlagak prihatin.
Hah! Terserah kau sajalah! Mau ngaret ataupun tidak, toh Bos Stevano tak pernah mempermasalahkannya kan?
Hati Alyssa mencelos.
Perkataan Zevana yang sudah dianggap seperti Kakak kandungnya itu terdengar bagaikan sebuah sindiran halus ditelinganya.
Dengan murung Alyssa menjawab, Haduh Kakak tua jangan berkata seperti itu!
Tidak, aku hanya bercanda. sahut Zevana mengibaskan tangan kanannya diudara.
Sejurus kemudian ia menyerahkan sebentuk lap meja bermotif kotak-kotak dengan warna hitam-putih ketangan Alyssa.
Tolong lanjutkan pekerjaanku yah? Karena sekarang aku harus membuat sandwich telur pesanan Mrs. Sivia dan maaf kalau merepotkanmu.
Ah tak masalah! dengan senang hati aku akan membantu Kakak tua.

Zevana beranjak pergi kearah pantry, sementara Alyssa langsung melanjutkan pekerjaan bersih-bersihnya.
Kali ini ia tak sendiri karena dibantu dengan beberapa pegawai FSC lainnya.
Yah, begitulah ritual rutin yang selalu mereka lakukan sambil menunggu datangnya para pelanggan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 04:00 pm.
Alyssa memutuskan untuk beristirahat sejenak guna merenggangkan otot-otot persendian dikedua tangannya yang mulai terasa kaku. Sungguh ia tak pernah merasa secapai ini sebelumnya. Bagaimana tidak?
Gabriel, satu-satunya pegawai laki-laki di FSC yang bekerja sebagai pencuci piring, absen datang hari ini.
Ibunya sakit, oleh sebab itu ia meminta izin untuk tidak masuk kerja.
Dan masalahnya kenapa harus Alyssa yang menggantikan tugas Gabriel? Ditambah lagi hari ini ia harus membungkus berpuluh-puluh kantong makanan cepat saji yang dipesan oleh seorang wanita paruh baya sebagai kudapan disuatu acara perkumpulan. Haduh, membayangkannya saja sudah melelahkan!

Resiko hidup di Kota orang. Sudah untung sekolah tidak bayar!
2 buah kalimat itu sering sekali Alyssa ucapkan jika fisiknya sudah mulai mengeluh. Ia harap dengan begitu rasa lelah dipundaknya akan segera hilang dan berganti dengan perasaan syukur.

Sekembalinya dari pantry, gadis itu langsung menggerakkan kedua kakinya menuju ruang ganti.
Ia berniat untuk mengganti celemeknya dengan celemek yang baru, karena celemek yang tadi basah terkena air cucian piring.
Aneh. Sesampainya Alyssa didepan pintu ruang ganti, tiba-tiba saja perasaan gelisah merasuk kedalam hatinya.
Membuat jantungnya berdetak 2 kali lipat lebih kencang dan tubuhnya pun ikut bergetar dengan hebat.
Tak seperti biasanya, kali ini Alyssa ragu untuk membuka pintu tersebut. Antara yakin dan tidak yakin. Takut, tapi takut karena apa?
Dan lucunya, meski perasaan gamang itu menyelimutinya, tapi toh pintu ruang ganti tersebut akhirnya juga terbuka akibat dorongan tangannya sendiri.

`CKLEKKKK....!`
Ketika pintu terbuka lebar, gadis itu langsung dipertontonkan dengan adegan yang seharusnya tidak perlu ia lihat.
Sebuah scene yang sukses menghentikan kerja jantungnya dan menahan disetiap tarikan napasnya.
Oh my! desis Alyssa lirih.
Spontan gadis itu membungkam mulutnya dengan sebelah tangan. Sementara yang sebelahnya lagi masih setia menempel digagang pintu.
Tubuhnya kaku, seperti ada lem mati yang menempel dikaki dan ubin yang ia jejakkan hingga membuatnya tak dapat untuk beranjak walau selangkah.

Apa yang sebenarnya Alyssa lihat???
Seorang perempuan dan laki-laki yang tampak berciuman dengan mesranya didalam ruang ganti.
Oke, itu bukanlah hal yang menakjubkan! Dan itu juga tidak akan jadi masalah JIKA BUKAN kekasihnya dan orang tersebut yang melakukannya.
Tapi ini???? Sungguh! Alyssa merasa tersakiti.
Cairan bening sudah berkumpul dan menggenang dipelupuk mata gadis itu, tapi ia terlalu gengsi untuk menangis.
Baginya hanya perempuan bodoh lah yang rela membuang air mata demi seorang laki-laki pengkhianat!
1 menit...
2 menit...
3 menit...
Alyssa masih tetap berdiri disana, bergeming ditempat hingga si pelaku pun sadar akan kehadirannya.
Alyssa???

..........

Malam yang sepi dimusim salju.
Seorang gadis berpiyama biru laut terlihat sedang melamun, berdiri ditepi jendela kamar kecilnya.
Tertegun.
Wajah gadis itu nampak kuyu dengan pandangan yang lurus menatap kearah gumpalan salju putih yang berhamburan jatuh dari atas langit.
Terjun dengan bebas seperti tak mempunyai beban sama sekali.
Tak ayal gadis itu pun mulai membayangkan bagaimana jika dirinya yang menjadi bola salju itu? Oh pasti menyenangkan!
Tapi kenyataannya?
Ia justru diposisikan sebagai jalanan beraspal yang ditimbuni oleh salju-salju tersebut.
Yah, Alyssa merasa terlalu banyak beban yang bersandar dipundaknya, apalagi semenjak ia melihat kekasihnya yang berselingkuh didepan mata kepalanya sendiri! Hoh, itu sungguh menyakitkan!

Kemarin, Alyssa sama sekali tidak memberikan Stevano waktu untuk berbicara menjelaskan semuanya. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu, karena menurut Alyssa apa yang dilihatnya kemarin sudah mampu menjabarkan hubungan apa yang sebenarnya terjalin diantara Stevano dan Ashilla akhir-akhir ini.
Jauh bukan berarti musuh dan dekat bukan berarti tidak ada apa-apanya kan?
Sambil mendekap hangat tubuhnya, gadis itu mendesah pelan.
Berharap beban dihatinya keluar bersamaan dengan partikel-partikel udara yang berhembus dari mulutnya.
Salahkah ia???? Salahkah ia jika menganggap cinta Stevano kepadanya hanyalah cinta sesaat???? Stevano sama sekali tidak sungguh-sungguh mencintainya, dan seharusnya Alyssa sadar siapa dia dan siapa Stevano? Mereka berbeda! Dibandingkan dirinya, tentu Mrs. Amanda lebih memilih Ashilla yang mendampingi anaknya kelak. Jelas, karena gadis itu.......sempurna.


I love you so much and I hate to say goodbye sweety.
Kata-kata itu kembali menggema ditelinga Alyssa.
Baru beberapa hari yang lalu Stevano mengucapkannya dengan nada yang menggoda. Namun, disaat Alyssa melihat Stevano mencium Ashilla, maka terpatahkanlah semuanya. Pemuda itu seolah menunjukkan bahwa apa yang ia ucapkan kemarin hanyalah gombalan semata, bukan ungkapan kejujuran dari dalam hatinya.
Bodoh! Lagi-lagi Alyssa merutuki kebodohannya sendiri. Ia bersikap seakan-akan dirinyalah yang salah didalam permasalahan ini.
Dan kemudian, gadis itu tampak menggelengkan kepalanya beberapa kali. Berusaha keras untuk membuang jauh segala hal yang mengingatkan ia akan kekasihnya. Ya, karena Alyssa rasa mengingat pemuda yang telah mengkhianatinya itu bukanlah hal yang penting. Menurutnya, hal itu malah terkesan membuang-buang waktu! Just a wasting time!

Hei, anak muda! Ini malam minggu. Apa kau tidak kencan dengan kekasihmu yang tampan itu?
Teguran halus seorang nenek tua yang kebetulan melewati jendela kamar Alyssa, berhasil mengagetkan lamunan gadis itu. Eh nenek Chloe?
Chloe Verquson, wanita tua berumur 50-an yang menegur dirinya tadi, adalah tetangga Alyssa.
Wajar jika Nenek Chloe menanyakan Stevano, karena ia selalu melihat Alyssa menghabiskan malam minggunya bersama dengan pemuda yang menurutnya tampan tersebut.
Yang tak wajar adalah mengapa malam ini Alyssa tidak terlihat bersama dengan Stevano???? Ada apa gerangan???? Nenek Chloe pun membuang rasa penasarannya dengan cara menanyakan langsung kepada Alyssa.
Kenapa hah? tanya Nenek Chloe lagi.
Oh itu, aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, Nek.
Alyssa mengurungkan niatnya yang semula ingin berbohong pada Nenek Chloe. Untuk apa? Toh masih berpacaran atau tidak ia dengan Stevano, itu bukanlah urusan Nenek Chloe.
Namun, sepertinya dugaan Alyssa salah. Karena kali ini wanita tua itu tampak memasang raut ingin tahunya. Penasaran.
Kenapa? Kalian sudah putus?
Alyssa terkesiap.
Tiba-tiba saja pertanyaan Nenek Chloe barusan mengingatkan dirinya akan ke-tidakjelas-an hubungan diantaranya dengan Stevano. Terhitung semenjak Stevano ketahuan berselingkuh dengan Ashilla sampai hari ini, mereka masih diam tak bersuara.
Jangankan mengobrol, bertemu dengan pemuda itu saja Alyssa enggan.
Dan akibatnya, sampai sekarang hubungan mereka menggantung. Tidak ada kata putus yang terlontar dari mulut keduanya.

Belum. Alyssa tersenyum kecut, tatapan mirisnya susah sekali untuk ditebak. Tapi akan segera putus. lanjutnya mantap. Kali ini lengkap dengan senyum manisnya.
Mau tidak mau Nenek Chloe pun membalas senyuman Alyssa.
Ia sempat mengucapkan selamat malam dan memberikan bungkusan hitam ketangan Alyssa sebelum akhirnya pamit pergi entah kemana.
Alyssa sama sekali tak ingin melihat apa isi dari bungkusan pemberian Nenek Chloe, karena ada suatu hal yang lebih penting dari itu.
Dengan cepat ia mengetik sebuah pesan dari ponselnya, lalu mengirimkannya ke nomer handphone yang sudah dihapalnya diluar kepala.
Setelah pesan singkat itu terkirim, dengan tergesa-gesa Alyssa pun meraih baju mantel berwarna putih tulang yang tersangkut dibelakang pintu kamarnya. Cuaca diluar masih sangat dingin, dengan memakai sweater hangat saja Alyssa rasa itu tidak cukup untuk menangkal hawa dingin yang menusuk dikulit bahkan sampai ke tulangnya.
Ini semua harus segera diakhiri, pikir gadis itu seraya memasang sepatu boots andalannya, dan ia juga mengambil sebentuk payung dari tempat yang sama.
Begitulah, malam ini Alyssa memutuskan untuk keluar rumah dengan satu tujuan. Kalau bukan dia siapa lagi yang akan mengakhiri cerita cinta ini???

***

Ingatkah kamu saat kita bersedih..
Ingatkah kamu saat kita bahagia..
Ingatkah kamu janji bersatu demi kasih sayang kita menuju hari esok berdua..

..........

Disini, bertempat di Taman Kota, Alyssa memberhentikan langkah kakinya.
Ia terduduk lemas dibangku panjang bermaterial besi yang cat nya sudah mulai terkelupas disana-sini.
Bangku ini???? Bangku ini adalah bangku yang ia tempati saat Stevano menyelamatkannya dari hinaan Mrs. Amanda.
Saat dimana Stevano membalut luka ditangannya dan mengatakan bahwa dirinya adalah permata yang wajib pemuda itu jaga.
Saat dimana ia putus asa.
Saat dimana Stevano meyakinkan hatinya untuk bertahan barang sedikit lagi saja. Dan sekarang akankah ia tetap bertahan??? Tidak!
Hati gadis sederhana itu terlampau sakit. Hancur, remuk tak berbentuk!

Ia kecewa.
Begitu mudah Stevano melupakan semua kenangan diantara mereka. Menghapuskan cerita cinta yang ada dengan melakukan sebuah pengkhianatan.
Kau telah membohongiku Stev. gumam Alyssa nyaris tak bersuara.
Napasnya tercekat akibat menahan tangis dikerongkongan. Gadis itu berpura-pura tegar, ia hanya tak ingin memperlihatkan kerapuhannya didepan segelintir manusia yang malam ini juga mengunjungi Taman Kota. Biarlah, cukup ia yang merasakan bagaimana sakitnya hati akan sebuah pengkhianatan.

`Tap... Tap... Tap...`
Malam yang sunyi membuat derap langkah kaki itu terdengar begitu nyaring.
Alyssa hafal betul dengan suara langkah kaki itu. Itu adalah bunyi derap kaki Stevano! Yah, Alyssa yakin. Dugaannya tak mungkin meleset, karena hanya pemuda itu yang ia ajak untuk bertemu malam ini.
Spontan Alyssa pun mengangkat sebelah tangannya yang kosong keatas. Isyarat bahwa Stevano tidak perlu mendekatinya.
Sudah hentikan langkahmu! Malam ini aku tak ingin mendengar penjelasan apapun juga dari mulutmu. ucap gadis itu tanpa menoleh kebelakang.
Stevano yang berdiri tidak jauh dari bangku yang Alyssa duduki pun hanya menelan ludah, terdiam kaku dengan raut wajah yang bersalah.
Alyssa, aku-----
Kau telah membohongiku! Kau PENGKHIANAT Stev! Kau mengkhianati cinta kita dengan cara mencium gadis itu. Apa waktu itu kau tidak memikirkan perasaanku? SAKIT Stev! Selama ini aku selalu berusaha mempertahankan cinta kita. Tapi kau? Hanya dengan satu perbuatan saja kau telah menghancurkan semuanya! potong gadis itu cepat, hanya dalam satu tarikan napas.
Sekuat hati Alyssa mengontrol emosinya agar tidak meledak-ledak. Walaupun susah tapi itu harus. Karena mereka bertemu dengan cara yang baik, maka berpisah pun harus dengan cara yang baik pula.
Setelah menghirup napas sejenak, gadis itu kembali menyahut.
Well, sebenarnya aku kecewa, tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Sekarang juga aku juga sudah memaafkanmu, jadi aku minta pergilah dari kehidupanku. lanjutnya dengan nada yang lebih tenang.
Stevano terkejut. Sungguh, bukan ini yang ia inginkan. Alyssa, aku mohon maafkan-----
SUDAH AKU BILANG AKU SUDAH MEMAAFKANMU! nada bicara Alyssa naik satu oktaf. Menandakan betapa emosinya ia pada saat itu.
Dan untuk meredamnya, Alyssa pun memegang erat batangan payung yang melindunginya dari butiran salju yang turun dimalam itu.
Maaf, tapi aku ingin hubungan kita berakhir cukup sampai disini saja. Bye~
Cepat-cepat Alyssa bangkit dari bangku taman.
Lalu, berjalan menjauhi Stevano yang tertunduk dalam penyesalan.
1 langkah...
2 langkah...
3 langkah...
Alyssa berhenti tiba-tiba sambil memutar lehernya, menghadap kebelakang.
Ditatapnya Stevano yang masih diam bergeming ditempat.
Ah, mantannya itu sangat terlihat tampan dengan memakai syal berbulu domba.
Tapi sayangnya ketampanan itu tidak akan menjadi miliknya lagi.

Aku lupa berterima kasih.
Stevano mengangkat sedikit kepalanya, pengganti atas kata Untuk apa? yang saat ini tidak mampu ia ucapkan.
Terima kasih atas indah cintanya dan sakitnya pengkhianatan yang telah engkau beri. Sungguh, aku tidak akan mungkin melupakannya.
Alyssa tersenyum. Senyuman manis yang --mungkin-- untuk terakhir kalinya ia persembahkan didepan Stevano.
Sejurus kemudian, tak peduli dengan jawaban yang Stevano berikan, Alyssa pun kembali melangkahkan kedua kakinya yang terasa berat ketika dijejakkan diatas jalanan setapak Taman Kota yang tertimbun oleh salju. Pergi, karena memang lebih baik jika kisah cinta ini diakhirnya saja.

***

Aku akan bertahan, jika kau mau bertahan.
Aku akan setia, jika kau juga setia.
Tapi, jika kau sudah jenuh, TERPAKSA aku pun ikut jenuh.
Dan jika memang cinta kita harus diakhiri, maka walau berat itulah yang kini terjadi.
Apa kau tahu????
Cinta tak bisa berdiri dengan kokoh, jika hanya dibangun oleh satu orang.
Karena cinta adalah suatu kesatuan yang didalamnya harus ada aku dan juga KAU.




[The End]




With Imagination~

_Minah Syalalabibeh_



.