Pura Pura Cinta

Selasa, 13 Desember 2011

^In My Solitude, Im Still Faithful (Dalam Kesendirianku, Aku Masih Setia)^


^In My Solitude, Im Still Faithful (Dalam Kesendirianku, Aku Masih Setia)^


Waktu terus berlalu,
Tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan..
Masih teringat jelas,
Senyum terakhir yang kau beri untukku..

<3

Jam dinding berukuran bundar yang terpaku rapi disalah satu tembok kamarku itu terus berdetak. Bergerak memutar dari angka satu ke angka berikutnya. Ya, tugasnya hanya membuang setiap detik waktu yang telah ku sia-siakan disini, dikamar ini. Always!
Terhitung sudah 3 hari, sejak kau pergi meninggalkanku dalam kesendirian, aku hanya menghabiskan waktuku dengan cara mengkerangkeng diri di kamar, di istana kecilku. Tanpa ada kegiatan. Tanpa ada aktivitas. Ini sungguh membosankan, tapi lebih membosankan lagi jika aku harus menatap dunia luar tanpa hadirmu disisiku.

Aku........ Aku tidak sanggup, Meig!

Cairan bening yang semula mengumpul di kelopak mataku, perlahan-lahan mulai luruh setetes demi setetes. Membentuk aliran anak sungai yang semakin lama semakin deras. Tak ayal kedua pipiku pun basah oleh air mata.
Do you know, Meig? Terakhir kali aku menangis adalah ketika kau memberiku kejutan di hari jadi hubungan kita yang pertama. Walaupun waktu itu kau sempat membuatku marah hingga cemburu buta, tapi ending dari kejutan yang kau berikan itu sungguh manis. Amat manis!

I still remember, dear.
Kala itu, disuatu malam kau berjanji akan menemaniku ke toko buku, yah sekedar hunting novel sebagaimana hobiku. Aku senang, karena sudah lama sekali kau tak punya waktu yang cukup untukku. Seluruh waktumu hanya kau habiskan dengan bola, bola, dan bola! Kulit bundar yang sering membuatku cemburu.
Tapi, ternyata apa yang terjadi?! Kau malah melupakan janjimu. Dan parahnya, waktu itu kau ke-gap jalan berdua dengan seorang gadis yang tidak ku kenal di salah satu pusat perbelanjaan. Kulihat, gadis itu menggenggam erat tanganmu, lalu kau balas dengan mengusap lembut bahunya, dan itu membuat hatiku hancur tanpa bekas!
Aku menangis, ingin rasanya berteriak tapi aku sadar itu adalah tempat umum. Dimana aku tidak boleh mempermalukan diriku sendiri, apalagi didepan orang banyak.
Kemudian, tanpa pikir panjang lagi aku pun melangkah cepat. Pergi meninggalkan kau dan juga selingkuhanmu itu. Kau tahu? Yang ada dalam pikiranku pada saat itu, hanyalah dua kata. Yaitu, KAU PENGKHIANAT!
Namun, tiba-tiba langkahku terhenti. Tepat diluar pintu masuk, kau mengunci pergelangan tangan kananku seraya membopongku dengan kedua tangan.
Aku kaget, dan berusaha untuk melepaskan diri dari gendonganmu. Kupukul dadamu yang bidang itu sekuat tenaga, semampu yang aku bisa, tapi kau tidak bereaksi. Kau sama sekali tidak mengelak atau mengaduh kesakitan. Yang ada kau hanya tersenyum, membuatku semakin muak!
Hoh! Aku baru ingat. Kau kan atlet! Tentunya pukulanku itu bukanlah hal yang menyakitkan untukmu.

Sesampainya di suatu taman yang jaraknya cukup dekat dari pusat perbelanjaan tadi, kau pun menurunkanku.
Badan kamu berat juga yah! Kau mengatakan itu sambil tertawa. Aku ingin marah, tapi ketika mataku menangkap view yang begitu indah di taman itu, serta-merta mulutku langsung terkunci rapat. Air mancur yang dikelilingi dengan lilin-lilin yang terapung cantik dan membentuk susunan huruf yang jika di-eja akan berbunyi LOVE YOU MEIYSA.
Bersamaan dengan itu, gadis yang kutuduh sebagai selingkuhanmu tadi keluar dari persembunyiannya. Ia menghampiriku dan mengatakan bahwa ini hanyalah bagian dari rencanamu saja.
Pada saat itu, aku tak mampu berkata-kata, kututup mulutku dengan kedua tangan guna menahan tangisanku agar tidak pecah.
Sedangkan kau sendiri tidak tinggal diam. Ketika melihat aku menangis haru, kau langsung menarikku ke dalam pelukanmu yang hangat. Kau kecup pundakku berkali-kali sembari mengucapkan berbagai kata maaf.

Ah! Aku masih mengingatnya secara detail. Asal kau tahu saja, aku tidak mungkin melupakan itu, karena itu adalah untuk yang terakhir kalinya aku meneteskan air mata.

Dan, sekarang air mata itu harus kembali tumpah tanpa bisa kucegah. Lagipula, bagaimana aku bisa membendungnya? Kau meninggalkanku dalam waktu yang tak kuduga.
Tiba-tiba, dan itu mendadak.
Kau pikir aku tegar? Kau pikir aku kuat? Andai saja kau tahu, aku lemah tanpamu, Meig.

Waktu itu........

^^^

Aku baru saja pulang dari kampus ketika handphone-ku bergetar dan menandakan satu pesan masuk darimu.
Pesan singkat yang berbunyi: Meiy, kita ketemuan yuk? Penting nih! Tunggu aku ditempat biasa yaaaa~ See you hun :*

Kubaca pesan singkat itu berulang-ulang, dan untuk yang ke-tiga-kali-nya aku tersenyum. Tumben! Kau tidak pernah mengajakku untuk bertemu kecuali di malam hari.
Pagi, siang, dan sore waktumu dihabiskan dengan kampus dan bola.

Kenapa hari ini????? Well, sebelum kau berubah pikiran buru-buru aku menyambar tas tanganku dan meraih kunci mobil yang tergeletak rapi di atas meja tulis. Aku harus ke tempat biasa kita bertemu secepatnya! Sebelum kau sempat membatalkan niatmu itu.

Tidak lama, hanya perlu 15 menit untuk sampai di tempat ini. Bukit kecil yang kita beri nama Love Is M. Yang artinya bisa Love Is Meiga or Love Is Meiysa. Terkadang, aku merasa kalau kita adalah jodoh. Karena kau dan aku sama-sama memiliki huruf depan M. Yah, aku tahu, ini terdengar lucu. Mungkin pemikiranku terkesan dangkal dan sepertinya agak memaksa. Tapi, itulah yang kurasakan. Kau dan aku jodoh.

Bukit ini adalah tempat favorit kita. Dimana kita sering menghabiskan waktu berdua disini.
Berbagai hal kita lakukan bersama-sama.
Seperti, kau memetik gitar dan aku bernyanyi, atau aku menendang bola dan kau menangkapnya. Seperti hobi kita! Aku gemar bernyanyi, dan kau senang menangkap bola. Iya kan?

Kulirik jam tanganku, lalu ku sapu pandangan ke sekitar bukit, dan aku tidak menemukan kau disini.
Di saat hari hampir petang, kau belum juga datang? Oh my gosssssh....
Aku sudah bilang kan? Kau tidak mungkin mengajakku bertemu di sore hari, dimana kau biasanya sibuk menghabiskan waktu dengan selingkuhanmu si bola itu.
Hah! Kau benar-benar menyebalkan!
Ku hempaskan tubuhku di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Disampingnya, terdapat pohon akasia yang rimbun, yang mampu melindungiku dari hangatnya matahari sore.
I feel, menunggumu sambil memandangi langit biru yang terbentang luas adalah pilihan yang tepat. Dengan begini aku tidak bosan, karena aku menyukai langit.
Langit itu luas, indah, dan amazing! Dalam sehari, dia bisa berubah warna menjadi 3 macam. Biru, jingga, atau malah hitam pekat. Amazing kan? Itulah Kuasa Tuhan.

Langit itu emang indah yah Meiy?

Refleks aku menoleh. Sangking seriusnya aku memandangi langit, aku sampai tidak sadar kalau kau sudah datang dan bahkan telah duduk di sampingku. Aku tersenyum simpul. Yah. Seperti kamu yang selalu terindah dihati aku, Meig. jawabku mencoba untuk menggodamu. Dan, ternyata berhasil! Kulihat semburat merah muncul dikedua pipimu. Kau tersipu malu? Ini adalah hal yang langka.

Jangan ngegombal deh Meiy!

Biar romantis, Sayang. Emangnya kamu! Jadi cowok nggak bisa romantis. seruku mengerucutkan bibir.

Kau terkekeh pelan, lalu merangkulku dengan sebelah tangan. Abis kamunya romantis duluan sih! kilahmu berkelit.

Dalam posisi kepala yang masih berada di atas pundakmu, aku hanya tertawa kecil. Kau memang tidak lucu, tapi kepolosanmu itu membuat kau menjadi lucu.

Sejenak suasana mendadak hening. Aku dan kau sama-sama terdiam, mencoba meresepi detik-detik kebersamaan kita di atas bukit Love Is M ini. Kebersamaan yang belum tentu bisa terulang lagi, pikirku aneh.
Kusenderkan kepalaku di bahumu, dan kau letakkan kepalamu di atas kepalaku.
Dari samping kau memelukku dengan erat, dan entah mengapa aku juga membalas pelukanmu itu dengan tak kalah kuatnya. Seperti ada perasaan takut kau akan pergi dari sisiku, tapi......... Ah tidak! Kau tidak mungkin meninggalkanku. Kau sudah berjanji akan setia disampingku apapun yang terjadi, dan aku percaya itu.

Meiy, tiba-tiba kau memanggilku. Setelah cukup lama kita saling terdiam, akhirnya kau memutuskan untuk angkat suara terlebih dulu.

Ya, kenapa Meig? tanyaku tanpa menatapmu.

Kamu tahu kan kalau aku suka bola?

Tahulah, Sayang. Trus?

Bola itu impian aku. Selama ini aku menghabiskan waktuku dengan bola, bukan karena aku nggak sayang ama kamu, tapi karena aku pengen ngejar impian aku.

So?

Aku pengen kamu ngerti itu, Meiy.

Sayang, aku ngerti, kok. Impian kamu itu bisa jadi penjaga gawang terhebat didunia kan? tanyaku serius. Walaupun terkesan melebih-lebihkan karena membawa serta nama dunia, itu semata-mata agar kau mempunyai impian yang lebih besar selain menjadi kiper terbaik di Indonesia.

Dan, untuk meraih itu diperlukan usaha yang keras. Aku harus banyak belajar, Meiy. Salah satunya adalah belajar bola di Negeri orang. ucapmu dengan tenang.

Spontan aku mendongak, memandangmu dengan tatapan was-was. Kini, perasaan takut itu semakin menyeruak ke permukaan. Please, jangan katakan sesuatu yang tidak ingin aku dengar, Meig! Kau tidak berniat meninggalkanku kan?!
Aku hanya mampu menjerit dalam hati. Sementara mulutku berkata dengan lirih, Maksudmu?

Aku dapat beasiswa dari salah satu sekolah sepak bola di Inggris. Awalnya aku keberatan, sulit rasanya untuk meninggalkan Indonesia. Tapi, ini kesempatan kan, Meiy? Ini adalah salah satu jalan untuk mewujudkan impian aku sebagai penjaga gawang terhebat di Indonesia, bahkan di dunia seperti yang kamu mau. Iya kan, Meiy? Dengan tatapan penuh harap, kau mengguncang bahuku. Aku hanya diam, dalam hati aku mengutuk ucapanku sendiri. Impian kamu itu bisa menjadi penjaga gawang terhebat di dunia kan? Hoh! Seharusnya kalimat itu tidak perlu aku katakan tadi.
And now, apa yang harus kulakukan disaat seperti ini? Aku bimbang. Disatu sisi aku tidak sanggup melepaskanmu, tapi disisi lain apakah aku tega menghancurkan impianmu? Impian orang yang paling kusayang? Oh god, help me please.

Emangnya berapa lama? Susah payah aku membuka mulut. Memberikan respon lain yang tak hanya dengan tatapan nanar saja.

Kau menatap wajahku sesaat, lalu menggeleng. Kurang tahu, sih. Mungkin dalam waktu 1-2 tahun.

Yang pasti, Meig.

Aku kurang tahu, Sayang. ucapmu lembut sambil merangkum wajahku dengan kedua tanganmu yang kokoh. Sentuhanmu begitu hangat. Lalu, kau menatapku lebih dalam dan berkata, Meiy, bola adalah impian terbesarku selain bisa hidup berdua denganmu. Dan selagi aku mampu, aku harus bisa meraih kedua-duanya. Kamu dan bola. Kamu setuju kan?
Entah dapat dorongan darimana, aku pun mengangguk dua kali. Anggukan yang sukses membuatmu tersenyum lebih lebar. Sebuah lengkungan indah yang tak kusangka akan menjadi lengkungan terakhir di bibirmu yang tidak akan kulihat dalam kurun waktu yang tak dapat dipastikan.

Dalam terpaan angin senja yang berembus lirih, engkau berbisik, Aku pasti kembali, Meiy. Pasti. Kau berjanji sambil menarik pinggangku, mengusap lembut puncak kepalaku.
Dan aku hanya mampu memejamkan mata. Berharap dalam hati jika apa yang kau ucapkan tadi bukan hanya sekedar janji. Tapi, suatu hal yang pasti akan kau tepati.

Perlahan-lahan matahari mulai tenggelam. Kembali ke peraduan, meninggalkan langit seperti kau yang pergi meninggalkanku seorang diri.

Kau pergi tanpa membawa serta perasaan yang tercipta hanya untukmu.
Sebuah rasa yang hadir karenamu.
Sebuah rasa yang disebabkan olehmu.
Sebuah rasa yang tak bisa digantikan oleh sosok terindah manapun, selain kamu.
Kau meninggalkanku dalam kegalauan, dalam kegundahan, dan dalam kebimbangan.
And now, you make me so hampa, dear.

^^^

Tak pernah ku mencoba,
Dan tak ingin ku mengisi hatiku dengan cinta yang lain..
Kan ku biarkan ruang hampa di dalam hidupku..

<3

Sebuah ketukan halus di pintu berhasil membuyarkan lamunanku tentangmu. Tentangmu yang kini pergi meninggalkanku, tanpa ada memberi kabar.

Masuk aja nggak dikunci, Cepat-cepat kuseka tetesan air mata itu dengan kedua telapak tangan. Tak lama, terdengar bunyi knop pintu yang diputar.
Aku menoleh. Kulihat kepala seorang wanita paruh baya yang menyembul di balik pintu. Beliau adalah Ibuku. Orang yang selama ini mengkhawatirkan keadaanku.
Rajin mengecek keadaanku di setiap jam, dan rutin mengantarkan makanan untukku jika aku tidak ingin keluar dari kamar.
Kali ini, ia membawa nampan berisikan sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Ia tahu bahwa sejak semalam aku tidak mau makan.

Taruh diatas meja dulu, Bu. kataku menatap ke arah meja tulis, disamping lemari pakaian.

Ibu menggeleng, prihatin. Masih betah diam di kamar, Meiy?
Aku diam, tak tahu harus menjawab apa. Kualihkan pandanganku ke jendela kamar. Menatap jauh ke luar sana dengan pandangan kosong. Bukannya apa-apa, aku hanya takut menatap matanya, karena aku tidak ingin Ibu tahu betapa menderitanya hidupku ketika ditinggal pergi olehmu. Aku tidak ingin Ibu mengasihaniku.

Keluar tho nduk, Ibu membelai rambut panjangku dengan penuh kasih sayang. Aku menatap matanya, sedetik kemudian pandanganku kembali beralih ke luar jendela. Ibu tidak sanggup jika setiap hari harus melihatmu seperti ini. Tak ada aktifitas dan selalu mengurung diri di kamar.

Meisya juga nggak sanggup, Bu, kalau harus menatap dunia luar tanpa hadirnya Mas Meiga disini. jawabku tanpa menoleh ke arahnya. Aku kesal karena nada bicara Ibu tadi terdengar seperti mengasihaniku. Oh bukan, tapi beliau memprihatinkan-ku. Dan bukankah mengasihani dengan memprihatinkan itu bedanya tipis? Heuh~
Kuhela napas dengan berat. Tak lagi kurasakan lembutnya belaian tangan Ibu dirambutku. Ketika aku memalingkan wajah, ternyata sekarang posisi Ibu sudah berdiri tepat dihadapanku. Mata tajamnya menatap jauh ke dalam manik mataku, tertumbuk di sana sehingga aku tidak mampu berpaling lagi.

Meiy, dengan melakukan berbagai aktifitas kamu akan mudah melupakan si Meiga-Meiga itu. Kamu sudah 3 hari lho tidak masuk kampus. Apa kata Ayahmu kalau beliau tahu ini semua? Ibu tidak bisa lagi berbohong didepan beliau. Lagipula, lambat laun Ayahmu itu pasti akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kamu mengerti kan maksud Ibu? ucap Ibu panjang lebar.

Aku tersenyum kecut. Mengerti kok Bu, sangat mengerti. Itu artinya mau tidak mau, mulai besok aku harus kembali masuk kuliah. Tidak boleh tidak! Iya kan? Dalam hati aku menggerutu sebal, sementara bibirku berkata, Besok Meiy juga udah masuk kampus, kok.

Ibu tersenyum lega. Sebelum ke luar dari kamar, ia sempat mengacak-acak puncak kepalaku dengan gemas. Hah! Rupanya beliau masih menganggapku sebagai putri kecilnya. Tidak berubah.

*

Keesokan harinya,
Kampus sudah terlihat ramai ketika mobil Swift yang ku kendarai berbelok arah memasuki halaman parkir khusus roda 4. Untungnya, masih ada satu tempat kosong di samping mobil Toyota jenis Avanza berwarna silver. Tanpa pikir panjang lagi, langsung saja ku-belokkan stir kemudi menuju tempat tersebut.
Ku matikan mesin mobil, dan setelah keluar ku kunci otomatis dengan menggunakan serencengan kunci yang aku bahkan tidak tahu apa namanya.
Sejenak aku menghirup udara bebas. Sudah 3 hari aku tidak menginjakkan kaki di kampus ini. Mungkin, tak sedikit dari mereka yang merindukanku. Hei! Bukannya aku GR, ke-PD-an atau apa yah, tapi memang begitu adanya. Sehari saja tidak bertatap wajah denganku, mereka --orang-orang yang mengenalku itu-- pasti akan menanyakan kabarku, merindukanku. Berbeda sekali denganmu! Buktinya semenjak kau pergi kau tidak ada sekalipun memberiku kabar. Sepertinya kau tidak merindukanku, Meig. Semudah itu kah kau melupakanku?

Buru-buru aku menggeleng, menepis bayanganmu yang menari indah dikepalaku. Stop it, Meiy! Hentikan kalau kamu tidak ingin hidupmu kacau. Ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan Meiga. Kampus yah kampus. Bukit yah bukit. Kamu hanya boleh memikirkan dia diluar dari jam kuliah! Okay? So, fokus!

Sekuat hati aku mensugesti diriku untuk berhenti memikirkanmu. Tapi nyatanya, siluetmu seperti tak ingin lenyap dari anganku. Aku terus saja memikirkanmu, tanpa jeda. Sampai akhirnya, seseorang berhasil mengembalikan konsentrasiku dengan cara mencekal lenganku di salah satu lorong kampus.
Eh, Aku tersentak kaget dan refleks berbalik. Diego? Mataku sedikit melebar ketika melihat sosok yang tengah berdiri dihadapanku.

Ya, Dia Diego. Kau masih ingat dia kan? Dia adalah sainganmu untuk mendapatkanku. Eunggg~ maksudku dia juga menyukaiku, sama sepertimu yang ingin memilikiku, tapi sayangnya hatiku lebih dulu terpaut padamu. Kaulah cinta yang kupilih.
Bukan, bukan karena dia tidak baik lantas aku lebih memilihmu dibanding dia. Kau sendiri tahu kan? Diego baik, tampan, nilai semesternya juga diatas rata-rata. Dia termasuk the most wanted boy di kampus kita! Hanya saja, aku tidak suka caranya yang terlalu memaksakan kehendak. Memaksaku untuk jadi kekasih hatinya, padahal jelas-jelas aku sudah terikat hubungan denganmu. Dia tidak memedulikan perasaanku, yang dia pedulikan hanyalah hasratnya semata. Dan baginya cinta itu harus memiliki, padahal jelas-jelas cinta tidak bisa dipaksakan. Dia egois kan?
Sejenak bibirku melengkung kecil, Hai, sapaku seraya kembali melangkah, bersikap acuh-tak-acuh seakan tak peduli. Sialnya, Diego malah berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah kakiku. Tanpa lelah pemuda berwajah Indo itu terus mengekoriku di belakang.

Hei, Meiy, sudah 3 hari belakangan ini aku nggak lihat kamu di kampus. Kata temen-temen kamu sakit yah? Apa itu benar? Kalau iya aku turut prihatin, dan aku menyesal karena nggak sempat jenguk kamu kemarin. ucapnya panjang lebar.

Sengaja aku menghentikan langkah, berbalik dan tersenyum lebar ke arahnya. Merasa surprise karena jujur aku tak menyangka dia masih bisa mengkhawatirkanku seperti ini. Thanks for your concern. But, aku merasa sudah mendingan kok sekarang. Kembali ku ayunkan kaki, melintasi beberapa lorong kampus yang lumayan ramai dengan mahasiswa/i yang berkumpul dipelataran. Sesekali aku tersenyum, membalas sapaan mereka yang sudah 3 hari ini tak melihatku.
Lalu, setibanya diujung lorong menuju kelas sastra, Diego mencegatku. Ia berdiri tepat dihadapanku dengan kedua tangan yang merentang lebar. Menutup perjalananku sehingga membuatku kesulitan untuk menghindar darinya.

Aku mendelik, menatapnya dengan kepala yang sedikit miring. Pengganti kata Apa? yang malas untuk kuucapkan.

Sementara Diego nampak tertegun sebelum akhirnya ia membuka mulut. Ummm~ Meiga ke Inggris?

Aku mengangguk. I know, Diego bertanya seperti itu bukan karena dia tidak tahu, tapi karena dia ragu-ragu atas apa yang ia ketahui. Dia hanya butuh kepastian.

So?

Walaupun Meiga udah leave dari Indonesia, aku akan tetap menunggu dia disini.
Tak perlu dijelaskan panjang lebar, aku sudah mengerti maksud dari kata Jadi? yang Diego tanyakan. Aku tahu dia masih menaruh harapan padaku. Tapi, aku rasa jawabanku sudah cukup jelas. Apapun yang terjadi aku akan tetap setia pada satu hati. Hanya untuk hatimu yang nun jauh disana.

Sorry, aku buru-buru. Kita ketemu lagi di lain waktu. Bye, Go. pamitku seraya berlalu pergi. Dengan langkah yang tergesa-gesa aku berbelok arah menuju ruang sastra. Berharap sekali mata kuliah semacam melukis bisa membuatku sedikit lebih tenang nantinya.

*

Hanya dirimu yang pernah tenangkan ku dalam pelukmu saat ku menangis..

Bila aku harus mencintai dan berbagi hati, itu hanya denganmu..
Namun bila ku harus tanpamu, akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta..

<3

Satnite kali ini terasa begitu membosankan untukku. Tidak adanya teman yang bisa diajak keluar, dan tidak adanya acara tv yang menarik untuk ditonton membuat rasa bosan yang menghampiriku semakin menjadi-jadi. Sekilas aku melirik ke layar handphone yang tergeletak manis di atas kasur. Berharap ada nomer asing masuk dan ternyata itu adalah kamu yang tengah mengabarkanku tentang indahnya Kota Inggris di malam hari. Menceritakan padaku betapa menyenangkannya sekolah bola-mu disana. Tapi apakah itu mungkin? Sadar dengan ketidakmungkinan itu aku pun lantas tertawa miris. Aku tahu itu hanya khayalanku semata. Angan-angan yang sulit terwujud dalam kondisi seperti ini, angan-angan yang tak mungkin bisa menjadi nyata.

Hmmmm~ sesaat aku berpikir, mungkin membaca novel romance dengan ditemani segelas hot chappuccino, camilan, dan lantunan indah dari mp3 player adalah pilihan yang tepat. Aku bisa membaca novel kesukaanku, dan juga bersenandung di tengah-tengah bacaan. Ya, aku rasa itu hal yang menyenangkan!

Kemudian, ketika aku memutuskan untuk ke dapur, bel rumahku berbunyi dua kali. Niatku yang ingin menyeduh chappuccino pun terpaksa kuurungkan. Segera ku putar haluan menuju pintu utama yang terletak di ruang tamu.

Siapa sih yang mencet bel malam-malam gini? Batinku bertanya-tanya. Sebelum knop pintu kuputar, lebih dulu aku mengintip di lubang kecil yang memang terpasang disana. Kulihat sesosok pemuda yang posisinya tepat membelakangiku. Eunggg~ dari postur tubuhnya sih sepertinya aku kenal siapa dia. Dan ketika dia berbalik ternyata dia memang...........

Diego? Aku bertanya pada diriku sendiri, merasa kurang yakin meski wajahnya sudah terpampang jelas dilubang kecil itu. Aku heran, untuk apa dia datang kemari? Darimana pula dia tahu rumahku?
Karena dengan bertanya pada diri sendiri tidak akan mendapatkan jawaban, aku pun memutuskan untuk segera membuka pintu.
Hal pertama kali yang kulihat saat pintu terbuka lebar adalah sosok Diego yang menyunggingkan senyum yang...... Okay! Kuakui manis.

Malam, Meiy. Sorry ganggu, katanya sopan. Tanpa sadar sebelah alisku pun terangkat, bingung. Oh ya, nevermind. Ada apa nih malam-malam main ke rumah? Tumben. Seingatku, sebelumnya kamu nggak pernah main ke rumah deh. Kok kamu bisa tahu alamat rumah aku sih? tanyaku langsung, tanpa basa-basi lagi.

Diego berdehem pelan, Jangankan alamat rumah kamu, tempat favoritmu berdua dengan Meiga pun aku tahu. jawabnya sok misterius. Sukses mengangkat alisku lebih tinggi lagi. Oh, sepertinya Diego memang sengaja ingin mempermainkanku. Dia senang membuatku terkejut. Dan aku tidak akan membiarkannya besar kepala seperti ini. Hih! Memangnya dia siapa? Aku tidak percaya dia bisa mengenalku sejauh ini.

Oh ya? sahutku dengan pandangan meremehkan. Ingin melihat wajah kesalnya, tapi yang kulihat malah wajahnya yang tersenyum santai. Sial!

Mau bukti? tantang Diego sambil menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans yang ia kenakan.

Ng......... Sejenak aku tergugu, mendadak takut. Apalagi setelah kulihat dia melangkah lebih dekat ke arahku. Mau apa dia?

Tujuanku kesini memang untuk mengajakmu jalan, kok. Aku tahu Meiga sudah nggak ada di Indonesia, so, I think aku nggak perlu takut untuk mengajakmu keluar. Iya kan? Lets go! Ternyata Diego tak main-main, ia benar-benar ingin membuktikan ucapannya. Tanpa pikir panjang ia pun langsung menarik pelan lenganku. Membawaku hingga ke sisi mobilnya yang terparkir rapi di ujung jalan, depan komplek sana. Anehnya aku menurut, sama sekali tak memberontak dengan apa yang dia lakukan. Padahal karena ulahnya itu aku sampai lupa mengunci pintu rumahku yang tak berpenghuni. Yah, tak berlebihan jika aku merasa dia seperti menghipnotisku malam ini.

Didalam mobil sport jenis range rover milik Diego aku hanya duduk manis, diam tak bersuara.
Sesekali aku menggigit kecil bibir bawahku dengan pandangan terlempar jauh ke luar jendela mobil. Mengamati beberapa kendaraan roda dua, roda empat, bahkan pejalan kaki yang melangkah di trotoar. Memang tidak penting, tapi setidaknya apa yang kulakukan kini bisa menutupi sedikit rasa gelisah yang menyerangku. Gelisah karena sebelumnya aku tak pernah satu mobil dengan pemuda manapun selain kau, bahkan aku juga tak pernah menikmati malam Minggu dengan pemuda lain kecuali bersamamu seorang. Sejenak aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Apakah ini yang namanya berselingkuh? Oh tidak, karena aku dan Diego hanya jalan-jalan biasa bukan kencan. Tapi, bukankah sesuatu yang LUAR BIASA itu berawal dari yang BIASA dulu? Seperti teman jadi sahabat, lalu sahabat jadi pacar? Hoh! Aku mikir apaan sih?!
Karena terlampau kesal, tak sadar aku pun menghembuskan napas hingga mengeluarkan bunyi yang keras. Tentunya hal itu mengakibatkan Diego dengan spontan menoleh ke arahku walau hanya beberapa detik. Dasar bodoh!

Eh, sorry, Aku meringis kecil.

Kayaknya dari tadi kamu gelisah. Kenapa sih? tanya Diego tanpa mengalihkan kedua matanya dari jalan raya yang malam ini cukup padat. Wajar sih, namanya juga malam Minggu. Tenang aja, aku nggak akan bawa kamu ke tempat yang aneh-aneh kok. Aku kan tahu kamu masih milik Meiga, dan aku nggak mau biru-biru ditangan tuh kiper cuma karena ngelecetin ceweknya doang. Hehe~ sambungnya terkekeh di ujung kalimat. Dia bercanda! Jelas-jelas dia lebih kekar dibandingkan kamu.

Oh itu, sebelumnya aku nggak pernah jalan dengan cowok manapun selain Meiga. Terus terang aku ngerasa nggak nyaman. jawabku tersenyum tipis. Seolah rekaman ketika kita jalan berdua dan menghabiskan waktu bersama terputar kembali di memori ingatanku. Ah, rindu itu muncul lagi.

Masa sih? Kamu yakin nggak pernah jalan dengan cowok lain kecuali Meiga? sahutnya tidak percaya.

Ya.

Kok bisa?! Kali ini nada bicaranya terdengar lebih histeris.

Dengan santai aku jawab, Kenapa enggak? Sebelum jadian dengan Meiga, aku single kok. Belum pernah menjalin hubungan spesial dengan pemuda manapun.

Itu artinya Meiga pacar pertama kamu dong?

Yah, cuma dia satu-satunya pemuda yang mampu membuatku jatuh cinta. Mengenal cinta dan mengerti apa itu cinta. Aku menghirup udara sejenak, lalu menatap Diego dengan seksama. Kamu tahu nggak? Single itu prinsip. Dan orang yang prinsipnya single, nggak akan mau bermain-main dengan hati.

Diego tertegun cukup lama, sebelum akhirnya ia bergumam pelan, Sekarang aku ngerti kenapa kamu nggak bisa nerima aku untuk ngegantiin posisinya Meiga dihati kamu.
Karena kamu nggak suka bermain-main dengan hati. Iya kan?

*

Ban mobil ini terus bergulir, mengantarkan aku dan Diego ke sebuah tempat yang rasanya begitu nyaman.
Kau tahu? Sebelum ia membawaku kesini, dia menutup mataku dengan sehelai sapu tangan. Aku tidak mengerti apa maksudnya? Mungkin ini adalah sebuah kejutan. Rupanya dia ingin agar aku benar-benar terkejut malam ini.

Dia menuntunku keluar dari mobil, dan memerintahkan kepadaku supaya tidak membuka penutupnya sebelum dia suruh.
Aku hanya mengangguk, meskipun sedikit kesal karena terlalu banyaknya aturan yang dia ajukan.

Sekarang kamu duduk dulu deh, Meiy. Baru buka penutup matanya, Dia menyuruhku duduk tanpa membantuku untuk mengetahui dimana letak bangku. Memangnya dia pikir aku sesakti apa sih? Aku kan bukan Dedy Corbuzier yang masih bisa melihat dengan mata tertutup! Karena aku bergeming di tempat, dia pun berujar, Bangkunya ada dibelakang kamu, kok.

Beneran nih ada bangku dibelakang? tanyaku ragu.

Yaps.

Bohong awas lho! seruku sambil perlahan-lahan duduk sesuai yang diperintahkan Diego. Kemudian, langsung saja ku buka kain yang menutupi sepasang mataku itu. Sesaat aku mengerjap, berusaha memperjelas penglihatanku. Ketika sudah jelas aku pun menganga lebar. Disekitarku penuh dengan hamparan rumput hijau yang luas, didepanku ada sebuah jurang kecil yang tidak begitu dalam, dan disampingku ada sebatang pohon akasia yang kering kerontang karena mulai memasuki musim panas.

Oh my God! Love Is M ini kan.......?

Bukit yang sering kamu kunjungin berdua dengan Meiga. sambung Diego cepat.

Kamu tahu dari mana? tanyaku membulatkan mata.

Aku sering ngikutin kalian berdua, kok. jawab Diego tersenyum penuh kemenangan.

Okay. And now, apa mau kamu? Kayaknya nggak mungkin deh kalau kamu ngajak aku kesini tanpa alasan.

Aku cuma mau kamu berbagi,

Berbagi?

Ya, ceritakan ke aku gimana cowok sesuatu kayak Meiga bisa membuatmu jatuh cinta. Yakinkan aku kalau aku emang nggak pantas untuk ngegantiin posisinya Meiga dihati kamu, dan setelah ini aku janji aku nggak akan gangguin kamu lagi.

Cuma itu? kataku sangsi.

Yeah, come on girl.

Aku termangu. Mencari kata-kata yang pas untuk memulai ceritaku tentangmu. Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat, karena kalau aku disuruh untuk mengingat kembali masa-masa itu, yang ada aku akan semakin rindu padamu. Dan mungkin nanti aku akan menangis di akhir cerita. Tapi, kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Sementara aku masih berpikir, Diego dengan sabarnya menantikan aku bercerita. Sikapnya benar-benar berubah drastis semenjak percakapan kami dimobil tadi. Kau tahu? Dia tidak lagi memaksaku seperti dulu. Dia mulai mengesampingkan sikap egoisnya.

Setelah berpikir cukup lama, aku melirik Diego, tersenyum simpul dan mulai bercerita.
Meiga itu pemuda sederhana. Sangat sederhana! Dia bukan the most wanted boy seperti kamu, Go. Nilai kuliahnya juga standar, nggak sebagus pemuda-pemuda lain yang juga pernah nembak aku, yah termasuk kamu. Dia bukan anak orang tajir, dan dia sama sekali nggak punya keahlian -selain menjaga gawang- yang bisa membuat aku terpukau.

So, apa yang ngebuat kamu tertarik dengan dia? Kok bisa-bisanya kamu jatuh cinta sama orang yang out of your criteria gitu sih? Wajar kan kalau selama ini aku heran. Kamu nolak aku gitu! Nolak aku yang jelas-jelas lebih sesuatu dibanding Meiga. What the hell?! sela Diego sedikit emosi.

Kontan aku tertawa kecil, Jangankan kamu, aku sendiri heran kenapa aku bisa jatuh cinta dengan pemuda seperti dia.
Detik selanjutnya aku terdiam. Ku tatap pemuda blesteran Belanda yang ada dihadapanku ini dalam-dalam sebelum akhirnya bibirku terbuka untuk kembali mengucapkan kata.
Tapi, yang namanya cinta nggak mesti ada alasan kan, Go?
“Cintaku tumbuh secara tiba-tiba, hadirnya melalui sebuah pelukan yang tak mungkin pernah bisa aku lupa. Aku masih ingat Go, waktu itu..........”

^^^

Ini adalah tahun pertamaku masuk kuliah. Dimana aku sangat disibukkan dengan berbagai tugas ini-itu dari kampus. Dari sekian banyak tugas yang mereka berikan, mengerjakan laporan adalah hal yang paling merepotkan. Yah, seperti malam ini. Ketika laporan sudah selesai diketik dan tinggal di print saja, tintanya malah habis. Parahnya adalah laporan yang ku kerjakan ini harus dikumpul besok. Sial kan?!

Aku mendecak kesal sembari melirik ke arah jam digital yang berdiri manis didekat lampu tidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan aku memutuskan untuk keluar rumah mencari tinta printer, apa itu tidak salah? Well, apa boleh buat. Lagipula di depan komplek juga ada tempat fotocopy-an yang menjual tinta printer, kok. Berhubung letaknya tak jauh dari rumah, aku pun memilih berjalan kaki tanpa mengendarai Swift merah milikku.
Sayangnya kesialanku tak hanya sampai disitu. Bagaimana tidak? Diluar petir bergemuruh nyaring diringi dengan kilatnya yang menyambar.
Finally, aku harus keluar rumah ditemani dengan payung warna-warni yang terpaksa kubawa karena diluar cuacanya sedang tidak bersahabat. Walaupun hanya berupa rintik-rintik kecil, sih.

Sepanjang perjalanan aku terus berharap dalam hati agar tempat fotocopy-an itu belum menutup usahanya. Karena sepengamatanku toko itu selalu tutup diatas jam 10 malam. Dan kau tahu? benar saja dugaanku.
Hah! Aku mendesah berat. Selama ini aku selalu bangga dengan dugaan-dugaanku yang tidak pernah meleset, tapi untuk yang satu ini? Aku sungguh menyesal.

Sebenarnya di komplek sebelah juga ada sebuah kios fotocopy yang menjual tinta printer, tapi untuk menuju ke sana aku harus melalui jalan-jalan tikus yang menjadi tongkrongannya para preman. Okay, aku tahu keputusan ini adalah suatu hal yang riskan jika ku ambil. Tapi, mau bagaimana lagi? Ini satu-satunya jalan yang tersisa.

Dengan perasaan was-was aku berbelok arah, menyeret paksa kedua kakiku untuk menuju kios tersebut. Aku harus bisa melakukan ini demi nilai kuliah! Lalu, ketika melintasi jalan yang sangat kutakuti itu, hatiku semakin cemas, jantungku berdegup kencang tak beraturan. Kupegangi erat-erat batang payung yang melindungi tubuhku dari rintik hujan dengan mulut yang terus bergerak cepat melantunkan doa.
Semoga, semoga, dan semoga..........
Sayangnya semoga itu tidak terwujud. Hal yang kutakutkan benar-benar terjadi.
Ditengah-tengah jalan langkahku terhenti. Tiga orang preman yang kurasa tengah mabuk, menghadangku secara tiba-tiba. Mereka tersenyum, tapi senyuman itu tidak membuatku tenang, yang ada malah semakin menambah ketakutan yang menyerangku.

Hey, kita nggak perlu susah-susah nyari. Nih mangsanya udah nyamperin! teriak salah seorang dari mereka menghampiriku. Walaupun mereka berjalan sempoyongan, tapi tetap saja aku tidak bisa lari dari mereka. Aku terlalu takut untuk kabur.

Mau kemana nona manis?

Sendiri aja nih, mau kita temenin nggak? timpal yang lain berusaha mencolek daguku. Aku langsung menepisnya dengan sebelah tanganku yang kosong.

Tolong jangan ganggu saya. kataku tegas walau terdengar hampir menangis. Tawa mereka langsung meledak, seolah ketakutanku adalah lelucon yang sangat menarik untuk mereka tonton.

Tapi kamu sudah memasuki daerah kekuasaan kami. Itu artinya kamu telah menjadi milik kami. Sudahlah, jangan malu-malu. Kita nikmati saja malam yang dingin ini. katanya berusaha menarik tubuhku dengan paksa.

TOLONGGGGGGGG..........! Sekuat tenaga aku berteriak, meskipun aku tahu rasanya percuma. Tempat ini terlalu sepi, tidak ada satu orang pun yang mau melintasi daerah ini, kecuali aku tentunya.

Diam, kalau tidak mau disakiti! ancam salah satu dari mereka dengan mata melotot. Aku tidak memedulikan ancamannya. Aku tetap saja berteriak sekencang mungkin.

LEPASKAN SAYAAAAAA....! Aku berusaha berontak hingga payung yang kubawa pun terlepas dan jatuh dibawah jalanan beraspal. Ku pejamkan mata kuat-kuat menahan tangisanku agar tidak tumpah.
Sejurus kemudian terdengar bunyi keras seperti pukulan tangan seseorang yang mendarat tepat di bagian wajah. Serta-merta aku membuka mata dan mendapati sosok tegapmu yang berdiri didepanku, kau berusaha melindungiku.

Ayo cepat hubungin polisi, katamu seraya menyerahkan handphone-mu ke tanganku.
Segera ku lakukan perintahmu itu meski dalam keadaan kalut.
Setelah itu aku hanya diam bergeming, menyaksikan pertarungan sengit antara kau dengan para preman tersebut. Aku tidak tahu harus melakukan apa, aku hanya bisa terisak dalam diam.
Pun sesekali aku menjerit ketika melihat kau terkena pukulan dari preman-preman itu. Tiga lawan satu, tentu bukanlah sebuah pertarungan yang ideal. Not balanced.

Diam-diam aku terkesima melihatmu. Kau terlihat seperti seorang ksatria malam ini. Walaupun bercak merah sudah menghias diujung bibirmu, kau tetap saja bersikeras melindungiku. Seperti seorang Rama yang rela mati demi Shinta-nya.

Selang beberapa lama kemudian, dari kejauhan terdengar bunyi sirene mobil polisi. Langsung saja para preman tersebut mengambil langkah seribu untuk kabur dari kepungan aparat keamanan. Namun, untungnya pihak kepolisian berhasil membekuk ketiga preman itu sebelum mereka berhasil meloloskan diri.

Ditengah rintiknya hujan yang semakin deras kau menghampiriku. Mendekatiku yang masih berdiri mematung dengan tangis yang tak kunjung reda. Aku masih shock.

Kamu nggak apa-apa kan? Ada yang luka? tanyamu khawatir.

Aku takut, jawabku dengan wajah tertunduk dalam-dalam.

Tenang, sudah ada aku disini. Kau mengangkat daguku dengan jari telunjukmu. Aku mendongak, menatapmu tepat dikedua manik matamu yang tajam bak mata elang, hingga tertumbuk disana selama beberapa detik. Ku telusuri bola matamu itu lebih jauh guna mencari sebuah kepercayaan.

Lalu, dibawah rinai hujan kau merengkuh tubuhku masuk ke dalam dekapanmu.
Sudah ya, jangan menangis. katamu mengusap lembut punggungku. Seketika itu juga aku merasa tenang. Perasaan takut yang tadinya menguasai hatiku perlahan-lahan sirna begitu saja. Ini aneh! Kau tahu? Padahal aku sama sekali tidak mengenalmu sebelumnya. Aku baru tahu setelah kau memberitahu aku siapa namamu.

Jadi, kamu Meiga yang kiper di klub sepak bola kampus kita itu?! seruku tak menyangka. Aku memang sering mendengar nama Meiga disebut-sebut oleh teman-teman di kampus, tapi aku tidak pernah tahu yang mana orangnya. Aduh, makasih banget yah. Kalau nggak ada kamu, aku nggak bisa ngebayangin apa yang bakal dilakukan para preman-preman itu ke aku.

Yeap! Lagian kamu ngapain lewat situ sih? Udah tahu rawan juga.

Aku terpaksa. Tinta printer-ku habis, dan nggak ada kios fotocopy terdekat yang masih buka selain disana. Mana tugasnya harus di kumpul besok lagi!

Oh, gitu. Kebetulan tinta printer-ku masih ada tuh. Pake' punyaku aja dulu, gimana? Entar aku anterin ke rumah kamu deh! Kebetulan kost-an aku juga deket-deket sini aja, kok.

Oh ya? Boleh sih kalau nggak ngerepotin.

Nggak ngerepotin kok eungggg~

Meiysa. sahutku memperkenalkan namaku untuk yang pertama kalinya didepanmu.

^^^

Begitulah, seandainya pelukan itu nggak ada mungkin aku nggak akan jatuh cinta dengan Meiga. Meiga itu penyelamat aku, Go. Berada didekat dia selalu buat aku nyaman dan ngerasa terlindungin. Kuakhiri ceritaku dengan senyum yang mengembang. Namun, senyum itu perlahan-lahan memudar ketika Diego menyahut, Dan sekarang sang penyelamat itu pergi ninggalin kamu tanpa ada kabar sedikitpun. Kalau udah kayak gini, apa kamu masih berharap sama dia?

Hah! Aku membuang muka seraya menghembuskan napas dengan kasar. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling sering aku dengar. Bukan hanya bosan, tetapi aku juga muak!
Apa salah kalau aku masih berharap denganmu? Apa salah kalau aku mencoba untuk setia walau dalam kesendirianku? Ini hidupku. Ini hatiku. Kalau aku boleh memilih tentu aku akan meninggalkanmu untuk cinta yang lain. Namun, urusan hati tak ada yang bisa mencampurinya kan?

Aku percaya janji itu akan ditepatinya suatu hari nanti. Entah tahun ini, tahun depan, tahun depannya lagi, atau kapanpun itu aku akan tetap menunggu Meiga disini. jawabku setelah bungkam beberapa saat.

Apa kamu yakin Meiga bakal kembali? tanyanya lagi menohok tepat dihatiku.

Antara yakin dan nggak yakin, sih. Hehe, ucapku terkekeh hambar. Sepanjang hidupku ini adalah kenyataan tersulit yang harus aku hadapi.

Diego diam, dengan sabar ia menantikan aku yang kembali bercerita. Berbagi kisah agar ia mengerti betapa hati ini tak mampu berpaling lagi walau untuk sesosok arjuna yang lebih indah sekalipun.

Beberapa hari yang lalu, Meiga mengajakku ke sini. Dia sudah memberitahuku tentang beasiswa bola-nya di Inggris, dan waktu itu dia meminta persetujuanku. Awalnya aku ragu untuk menyetujui kepergiannya itu, tapi aku berpikir lagi sampai berkali-kali. Yah, aku rasa egois banget kalau aku sampai mengekang kesukaannya, hobinya dia. Sementara, selama ini dia selalu menuruti kemauanku. Dia berusaha mengerti hobiku meski hobi kita bertolak-belakang sekalipun.
Ketika aku merestui kepergiannya, dia tersenyum manis. Senyuman paling manis diantara senyuman manisnya yang pernah aku lihat. Senyum yang sebelumnya nggak pernah aku duga sebagai senyum perpisahan darinya untuk aku.
Ku pandangi ribuan bintang yang bertabur diatas langit sana dengan tatapan kosong. Hampa, tak bermakna. Lalu, aku merasa tenggorokanku tercekat, aku pun menarik napas dalam-dalam, Dan kamu tahu apa yang terjadi? Besoknya, tahu-tahu dia sudah pergi ninggalin aku, Go. Kost-annya kosong, nomer handphone-nya nggak aktif. Dia, dia...... Ah, Tiba-tiba ucapanku terhenti. Kurasakan ujung mataku yang mulai basah. Ah, aku benci saat-saat seperti ini.
Saat dimana kenangan diwaktu terakhir bersamamu kembali berkelebat, melayang-layang di memori ingatanku hingga akhirnya memaksaku untuk meneteskan bulir-bulir air mata.
Tak ada cara lain. Ku pejamkan kedua kelopak mataku sembari menggigit kuat-kuat bibir bagian bawah agar pertahananku tidak jebol. Ku coba untuk tegar, walau rasanya ini sulit. Sangat sulit. Juliet mana yang tegar jika sang Romeo pergi tanpa ada memberikan kabar?

Well, nangis aja yang puas, kalau itu emang bisa ngebuat kamu tenang. Aku bisa menemanimu disini. saran Diego merentangkan kedua tangannya. Seolah bahunya selalu siap untuk dijadikan senderan, dan dadanya yang bidang selalu mampu untuk menopang kepalaku kapanpun yang kumau.

Aku menggeleng lemah seraya menyusut lelehan air mata yang syukurnya tidak merembes dengan deras malam ini. Thanks, Go. Tapi, sayangnya sekarang aku lagi pengen sendiri. Kalau aku minta kamu pulang lebih dulu, boleh nggak? Tinggalin aku sendiri aja disini.

Trus, kamu pulangnya gimana? Kita ke sini kan naik mobil aku,

It's easy, brad. Aku bisa naik taksi, kok. Please........... ucapku dengan nada memohon.

Diego mengendikkan pundaknya yang itu artinya terserahku saja. Dia benar-benar menepati janjinya yang tidak akan memaksaku lagi. Lalu, setelah memastikan aku baik-baik saja dan tidak menangis lagi, Diego berpaling meninggalkanku. Sejurus kemudian, sosoknya pun telah menghilang ditelan bukit.

Sepeninggalan Diego, aku kembali mendudukkan tubuhku di bangku panjang dengan pandangan menengadah lurus ke atas langit.
Kesunyian yang kurasakan dibukit Love Is M kini, menenggelamkanku dalam syair kesendirian.

Kesendirian ini menyakitkan,
Kesendirian ini meresahkan,
Kesendirian ini sungguh tak nyaman.

Tapi, inilah kesendirian.

Kesendirian yang tak pernah ku duga akan terjadinya,
Kesendirian yang tak pernah ku tahu kapan akhirnya,
Kesendirian yang tak pernah terpikirkan untuk mencari penggantinya, karena dalam kesendirianku ini aku masih setia untuk bertahan.


^The End^

In reading, likes, and comment on this story, for me its a reward guys ^___^

NB : Backsound in story = Rahasia Hati by Element.

With Imagination~
^Minah Syalalabibeh^

Tanah Grogot, 11 Desember 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar